Tuesday, September 8, 2009

Menjadi Umar Bin Khattab Jadiid di Ramadhan Ini

Jalan- jalan di bulan Ramadhan memang terasa beda, ada sesuatu yang diharapkan daripada sekedar letih melangkahkan kaki di sepanjang jalan ( tanpa kenangan ).
Mungkin bagi sebagian orang bisa disebut ngabuburit, capek memang tapi seolah tak jadi keputus asaan untuk terus melangkah sambil menunggu waktu adzan magrib tiba sebagai tanda shaumnya berakhir hari itu.
Tapi ada pula yang memanfaatkan waktu seharian itu untuk melakukan berbagai aktivitas yang bernilai positive atau bernilai pahala dalam istilah agama Islam. Seperti mengadakan sanlat, wisata Ramadhan ke mesjid- mesjid dan mengikuti serangkaian pengajain di dalamnya. Bahkan menyaksikan konser musik band yang marak menyanyikan syair Islam ( lagu religi ) dianggap ibadah juga oleh sebagian orang yang mungkin mereka mah kurang kerjaan aja dirumah ( he..), daripada bengong dirumah lebih baik nonton konser islami di berbagai daerah atau serambi mesjid.....kan lumayan dapat pahala juga mendengar lagu Islami ( cenahh...). - Saya sarankan lebih baik membaca qur'an atau buku- buku syariat Islam dech atau paling tidak mendengar murattal al-qur'an - ( yah aku juga berusaha menjalankan niat itu ).
Saya tidak jauh beda dengan lainnya, ingin menikmati hari tanpa rasa jenuh karena memikirkan sedang puasa. Dengan ditemani salah seorang kawan saya mencoba jalan- jalan mengitari pusat keramaian kota Bandung ( sekalian nyari sandal buat ganti yang sudah rusak ). Capek seh iya, berpanas- panas ria di tengah hiruk pikuk manusia-manusia yang antusias berburu berbagai kebutuhan tersier dengan harga diskon. Penat, begitulah rasanya otak ini tatkala mulai memasuki kawasan belanja elit itu. Saya hampir mau keluar lagi kalau tidak ingat saya harus membeli sandal " special " itu yang sebetulnya tidak pernah saya butuhkan andai saja punya saya tidak rusak! Huffhh......malas shopping!

Singkat cerita saya lepaslah sudah itu mall dengan melangkahkan kaki tergesa- gesa menuju pintu keluar utama. Legaaa.....
Saya lanjutkan "perjalanan" hari ini menuju sebuah mesjid buat istirahat, karena di tempat bernama mesjid itulah saya merasa sejuk melepaskan rasa lelah disana.
Diserambi mesjid tampak seorang ibu sedang berusaha menghentikan tangisan anaknya yang masih kecil, kira- kira usianya sekitar 7 tahun seumuran dengan keponakan dirumah. Sekilas saya melihatnya membuat ingatan pada ibu kembali hadir......jadi ingin pulang kerumah secepatnya!
Saya sudah hampir memejamkan mata ( kebiasaan kalau lelah suka tiduran sebentar sebelum sholat atau pergi lagi ), namun tangisan anak itu tak mau berhenti bahkan sangat mengganggu niat saya merasakan ketenangan dan kesejukan hari ini. Karena anak itu trus- terusan menangis akhrinya saya dan teman saya ( hee lupa dia gak kebawa ) menghampiri ibu dan anak itu seraya bertanya " Ibu, kunaon putrana nangis? " tanyaku.
" Ieu neng, hoyong jajan es...." jawabnya
" Ohh...kapanasan panginten bu? henteu saum kitu?" tanyaku kemudian, temanku disebelah memandangku terus menimpali, " Teu kuat meureunan..."
" Heunteu neng, da ibu mah saur oge mung ku cai wungkul, ieu budak teh can tuang di enjing- enjing. Ti kamari ibu tos milarian kaditu kadieu dijalan tapi can kengeng wae artosna "
Mendengar penuturan ibu itu, aku tiba- tiba merasa iba, sedih bercampur kasian padanya. Terbayang kembali saat ibu juga pernah mengeluh hal yang hampir sama ketika menjelang puasa beberapa waktu lalu ibu merasa cemas karena tidak punya uang simpanan, belum lagi kondisi ayah yang harus bolak balik ke rumah sakit untuk periksa dan menebus obat ( eh kok jadi curhat?! )

Akhirnya setelah ngobrol panjang tanpa lebar dengan ibu itu aku dan temanku patungan memberinya sedikit kebehagian. Kami tidak memberinya banyak uang tapi dengan sembako yang sempat kami beli untuk sahur dan buka ( mie instan, biskuit, susu, air minum dan cemilan lain ) sedang temanku menambah dengan sejumlah uang yang mungkin cukup untuk membeli tajil saja. Krena kami memang bukan pegawai yang gajinya besar, itu juga uang simpanan sebagian. Eh tidak semua sembako juga kami berikan tapi ada beberapa yang dirasa lebih dibutuhkan ibu itu, selanjutnya kami berdua pamit pergi dengan diiringi ucapan terima kasih yang tak henti- hentinya ditujukan kepada kami disertai linangan air mata dan do'a ibu itu untuk kami.
Kebahagiaan itu sangat jelas terlihat dari pancaran sinar mata sang ibu, kami melnajutkan perjalanan sekalian pulang. Ditengah jalan pulang, saya dan teman saya itu jadi "menggosip" tentang si ibu dan anaknya, dalam benakku andai saja ada seorang yang terkenal dan besar namanya yang berkeliling melihat saudara- saudaranya yang tak mampu bahkan untuk sekedar menyambung nyawa saja sangat sulit. Dan orang kaya itu ( soalnya kalau pemimpin sangat sulit diandaikan...jauuuhhh dari realita! ) menyamar dengan berpakain biasa laiknya masyarakat yang kekurangan datang menyambangi orang- orang yang kelaparan dan memberinya bantuan hingga kenyang, seperti yang dilakukan Umar Bin Khattab khalifah yang sangat mencintai rakyatnya. Aahhh....coba saja yang punya pikiran seperti itu tuh mereka- mereka yang berharta dan bertahta banyak dan bukan orang miskin juga seperti aku!
Karena Ramadhan ini seharusnya menjadi berkah dan kebahagiaan buat mereka yang tak mampu bukan saja untuk orang kaya yang akan mendapat THR di hari terakhirr puasa, ini juga Ramadhan mereka, yatim, dhu'afa, orang tak berpunya kecuali sehelai baju dan jasad yang menjadi sarang nyawa.
Ketahuilah adanya zakat juga sepertinya kurang diperhatikan oleh orang- orang mengaku muslim namun sangat berat mengeluarkan zakat. Coba saja mereka semua kompak mengeluarkan zakat tanpa ragu dan tanpa takut berkurang...niscaya Muslim Indonesia adalah manusia- manusia kaya jiwa dan harta serta tali persaudaraan ini takkan tergoyah karena satu sama lain saling membutuhkan.

Ya, jadilah Umar Bin Khattab yang baru......jangan mengandalkan orang lain, ulurkan tangan kita secepatnya........!

Wallohu a'lam

ini bukan ceramah atau berkisah tapi curhatan.......lega dech satu beban di kepala.

Friday, September 4, 2009

TIME ZONE AL- QUR'AN......

Pelangi Mizan & MDS mempersembahkan acara Love Quran Zone

Acara keluarga paling asyik pada bulan ramadhan tahun ini, terdiri dari: Belajar Al-Quran, sambil bermain games seru! Pentas seni, bazzar, discount, workshop, konsultasi, wahana, ada hadiahnya juga loh!

Lebih dari 20 Permainan
Semua permainan berhubungan dengan tema di Al-Quran, loh! Di antaranya ada tilawah/tadarus, tahfiz, memahami kosakata Al-Quran, terjemah, mengenal nama-nama surah, dll. Semua itu disajikan dalam bentuk permainan SERU! Jadi, kamu dan keluargamu bisa bermain sambil belajar Al-Quran dengan mengasyikan ...

Jenis-Jenis Permainan
Ular Tangga Raksasa, Intteliigence Games, Qurani Matching Games, Kwartet, Bingo, Puzzle, Origami, Petualangan Kata, Machting Board, Flash Card, Memory Game, Tic Tac Toe, Acak Kata, Tajwid Trafic Light, Menyanyi, Menggambar, Mewarnai Ornamen Al-Quran, Tell a Story, dll ...

Total Hadiah Rp 10 Juta: Setiap Permainan ada point-nya, loh! Semakin banyak kamu bermain semakin banyak point yang bisa kamu peroleh. Point yang kamu peroleh dapat ditukar dengan hadiah-hadiah menarik!

Nikmati juga lebih dari 7 wahana, acara, dan spot lainnya: Sambil menunggu kamu bermain, adik kecil dan keluargamu bis amenikamti berbagai acara dan wahana ... Ada pentas paduan suara, dongeng, sulap, workshop book craft, workshop membuat robot mainan dari barang bekas, konsultasi seputar buku dan pendidikan anak, wahanan mini cinema, arena memancing, foto studio (gratis berfoto keluarga akan dipilih enam keluarga untuk model kalender Pelangi Mizan)

Tiket Box dan Pendaftaran: Pelangi Mizan, Jln. Cinambo 137 Cisaranten Wetan, Telp. 022-7834166 [Lesti]
Atau datang ke Mujahidin Jalan Sancang No. 6 Bandung.

CERITA KESETIAAN

Sent: Thursday, August 20, 2009 10:13:59 PM
Subject: [smada_91] CERITA KESETIAAN

Copas dari sebelah:

Pagi itu klinik sangat sibuk.
Sekitar jam 9:30 seorang pria berusia 70-an datang untuk membuka jahitan pada luka di ibu-jarinya.

Saya menyiapkan berkasnya dan memintanya menunggu, sebab semua dokter masih sibuk, mungkin dia baru dapat ditangani setidaknya 1 jam lagi.

Sewaktu menunggu, pria tua itu nampak gelisah, sebentar-sebentar melirik ke jam tangannya.Saya merasa kasihan. Jadi ketika sedang luang saya sempatkan untuk memeriksa lukanya, dan nampaknya cukup baik dan kering, tinggal membuka jahitan dan memasang perban baru.

Pekerjaan yang tidak terlalu sulit, sehingga atas persetujuan dokter, saya putuskan untuk melakukannya sendiri.

Sambil menangani lukanya, saya bertanya apakah dia punya janji lain hingga tampak terburu-buru. Lelaki tua itu menjawab Tidak, dia hendak ke rumah jompo untuk makan siang bersama istrinya, seperti yang dilakukannya sehari-hari. Dia menceritakan bahwa istrinya sudah dirawat di sana sejak beberapa waktu dan istrinya mengidap penyakit Alzheimer.

Lalu saya bertanya apakah istrinya akan marah kalau dia datang terlambat.Dia menjawab bahwa istrinya sudah tidak lagi dapat mengenalinya sejak 5 tahun terakhir. Saya sangat terkejut dan berkata, Bapak masih pergi ke sana setiap hari walaupun istri Bapak tidak kenal lagi? Dia tersenyum sambil tangannya menepuk tangan saya dan berkata: "Dia memang tidak mengenali saya, tetapi saya masih mengenali dia, kan?"

Saya terus menahan air mata sampai kakek itu pergi, tangan saya masih tetap merinding. Cinta kasih seperti itulah yang saya mau dalam hidupku.

Cinta sesungguhnya tidak bersifat fisik atau romantis. Cinta sejati adalah menerima apa adanya yang terjadi saat ini, yang sudah terjadi, yang akan terjadi, dan yang tidak akan pernah terjadi.

Bagi saya pengalaman ini menyampaikan satu pesan penting: Orang yang paling berbahagia tidaklah harus memiliki segala sesuatu yang terbaik, melainkan mereka dapat berbuat yang terbaik dengan apa yang mereka miliki.
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss... !

Thursday, August 27, 2009

Imam Besar Al Aqsa Haramkan Aksi NOORDIN M TOP

( Diambil dari Facebook Message )

BANDARLAMPUNG, KOMPAS.com-Imam besar Masjid Al Aqsha, Palestina, Dr Syeikh Mohammad Mahmud Shiyam, mengungkapkan bahwa tindakan kekerasan yang mengatasnamakan jihad agama di Indonesia, diharamkan dalam Islam dan tidak dianjurkan.

"Sama sekali tidak diperbolehkan membuat tindakan teror di suatu negara dengan mayoritas penduduknya muslim, seperti di Indonesia, karena hanya akan membuat kaum muslim semakin menderita," kata dia, dalam silaturahmi dengan jamaah masjid Al Wasyi’i Universitas Lampung (Unila), di Bandarlampung, Minggu (23/8) malam.

Pria yang juga Rektor Universitas Gaza, Palestina itu juga mengungkapkan bahwa tindakan kekerasan yang mengarah kepada terorisme seperti dua sisi mata uang. "Berbicara mengenai terorisme itu seperti membicarakan dua sisi mata uang, ada yang baik dan ada yang buruk," kata dia.

Menurut Syeikh, terorisme akan menjadi baik dan dibenarkan apabila ada musuh nyata, dan dilakukan di daerah konflik, seperti di Palestina, Irak, dan Afganisthan. "Daerah-daerah tersebut memiliki musuh yang nyata, seperti Zionis di Palestina, tentara Amerika di Irak, namun tidak untuk di negara damai seperti Indonesia," kata dia.

Menurut Syeikh lebih lanjut, teror yang dilakukan di Indonesia termasuk tindakan teroris yang salah, dan salah menerjemahkan arti jihad. Dia menambahkan, teror tidak boleh dilakukan pada negara mayoritas muslim, karena akan membuat kaum muslim di negara itu menjadi menderita, dan hidup dalam ketakutan.

Dia juga mengutip hadis Nabi Muhammad SAW, yang antara lain isinya menegaskan tentang diwajibkan bagi umat muslim, untuk menjaga orang asing yang datang ke negaranya dengan tanpa tujuan berperang. "Mereka datang ke Indonesia untuk meminta perlindungan, jadi Anda sebagai muslim wajib melindunginya," kata dia.

Secara keseluruhan, dia mengatakan apa yang dilakukan Noordin M Top dan kawan-kawan, adalah bukan ajaran Islam, bahkan cenderung diharamkan. Hal itu disampaikan Syeikh, dalam acara silaturahminya dengan jamaah Masjid Al Wasi’i Universitas Lampung, hasil kerjasama antara Universitas Lampung dengan Jamaah Muslimin (Hizbullah) Lampung.

Acara itu diawali dengan buka puasa bersama, yang dilanjutkan dengan Shalat Tarawih berjamaah, dengan Syeikh Mohammad Mahmud Shiyam, sebagai imam shalat Tarawih berjamaah. Usai shalat tarawih berjamaah, Syiekh menyempatkan diri untuk memberikan ceramah, kepada para jamaah yang hadir, dengan didampingi oleh Rektor Universitas Lampung, Sugeng P Harianto.

Hadir pula Imamul Muslimin, yang juga Pembina Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Fatah, Natar, Lampung Selatan, H Muhyidin Hamidy. Pada kesempatan itu panitia, yang dimotori civitas akademika Unila itu juga berhasil mengumpulkan dana spontanitas dari para jemaah sebesar Rp3,6 juta, yang akan disumbangkan kepada warga Palestina di jalur Gaza yang sedang menderita dan sangat membutuhkan bantuan.

http://nasional.kompas.com/read/xml/2009/08/23/23430524/Imam.Besar.Al.Aqsa.Haramkan.Aksi.Noordin

Wednesday, January 21, 2009

WE WILL NOT GO DOWN (Song for Gaza)

WE WILL NOT GO DOWN (Song for Gaza)
(Composed by Michael Heart)
Copyright 2009


A blinding flash of white light
Lit up the sky over Gaza tonight
People running for cover
Not knowing whether they’re dead or alive

They came with their tanks and their planes
With ravaging fiery flames
And nothing remains
Just a voice rising up in the smoky haze

We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die
We will not go down
In Gaza tonight

Women and children alike
Murdered and massacred night after night
While the so-called leaders of countries afar
Debated on who’s wrong or right

But their powerless words were in vain
And the bombs fell down like acid rain
But through the tears and the blood and the pain
You can still hear that voice through the smoky haze

We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die
We will not go down
In Gaza tonight

Sunday, December 21, 2008

Akhlaq Presiden Iran....

Akhlak Presiden Iran..
21 December 2008 ( dari spaceku )
Subhanallah..masih ada presiden kaya gini..rendah hati bgt..very down to earth..Two thumbs up 4 u Mr. Ahmadinejad

SEandainya Pemimpin Indonesia seperti ini ....wah!

Presiden Iran saat ini: Mahmoud Ahmadinejad, ketika di wawancara oleh TV Fox (AS) soal kehidupan pribadinya: "Saat anda melihat di cermin setiap pagi, apa yang anda katakan pada diri anda?"


Jawabnya: "Saya melihat orang di cermin itu dan mengatakan padanya:"Ingat, kau tak lebih dari seorang pelayan, hari di depanmu penuh dengan tanggung jawab yang berat, yaitu melayani bangsa Iran ."

cid:1.1161507982@web52203.mail.re2.yahoo.com

Berikut adalah gambaran Ahmadinejad, yang membuat orang ternganga:

1. Saat pertama kali menduduki kantor kepresidenan Ia menyumbangkan seluruh karpet Istana Iran yang sangat tinggi nilainya itu kepada masjid2 di Teheran dan menggantikannya dengan karpet biasa yang mudah dibersihkan.

2. Ia mengamati bahwa ada ruangan yang sangat besar untuk menerima dan menghormati tamu VIP, lalu ia memerintahkan untuk menutup ruang tersebut dan menanyakan pada protokoler untuk menggantinya dengan ruangan biasa dengan 2 kursi kayu, meski sederhana tetap terlihat impresive.

cid:5.1161507983@web52203.mail.re2.yahoo.com

3. Di banyak kesempatan ia bercengkerama dengan petugas kebersihan di sekitar rumah dan kantor kepresidenannya.

4. Di bawah kepemimpinannya, saat ia meminta menteri2 nya untuk datang kepadanya dan menteri2 tsb akan menerima sebuah dokumen yang ditandatangani yang berisikan arahan2 darinya, arahan tersebut terutama sekali menekankan para menteri2nya untuk tetap hidup sederhana dan disebutkan bahwa rekening pribadi maupun kerabat dekatnya akan diawasi, sehingga pada saat menteri2 tsb berakhir masa jabatannya dapat meninggalkan kantornya dengan kepala tegak.

5. Langkah pertamanya adalah ia mengumumkan kekayaan dan propertinya yang terdiri dari Peugeot 504 tahun 1977, sebuah rumah sederhana warisan ayahnya 40 tahun yang lalu di sebuah daerah kumuh di Teheran. Rekening banknya bersaldo minimum, dan satu2nya uang masuk adalah uang gaji bulanannya.

6. Gajinya sebagai dosen di sebuah universitas hanya senilai US$ 250.

7. Sebagai tambahan informasi, Presiden masih tinggal di rumahnya. Hanya itulah yang dimilikinyaseorang presiden dari negara yang penting baik secara strategis, ekonomis, politis, belum lagi secara minyak dan pertahanan. Bahkan ia tidak mengambil gajinya, alasannya adalah bahwa semua kesejahteraan adalah milik negara dan ia bertugas untuk menjaganya.

8. Satu hal yang membuat kagum staf kepresidenan adalah tas yg selalu dibawa sang presiden tiap hari selalu berisikan sarapan; roti isi atau roti keju yang disiapkan istrinya dan memakannya dengan gembira, ia juga menghentikan kebiasaan menyediakan makanan yang dikhususkan untuk presiden.

cid:9.1161507983@web52203.mail.re2.yahoo.com

9. Hal lain yang ia ubah adalah kebijakan Pesawat Terbang Kepresidenan, ia mengubahnya menjadi pesawat kargo sehingga dapat menghemat pajak masyarakat dan untuk dirinya, ia meminta terbang dengan pesawat terbang biasa dengan kelas ekonomi.

10. Ia kerap mengadakan rapat dengan menteri2 nya untuk mendapatkan info tentang kegiatan dan efisiensi yang sdh dilakukan, dan ia memotong protokoler istana sehingga menteri2 nya dapat masuk langsung ke ruangannya tanpa ada hambatan. Ia juga menghentikan kebiasaan upacara2 seperti karpet merah, sesi foto, atau publikasi pribadi, atau hal2 spt itu saat mengunjungi berbagai tempat di negaranya.

11. Saat harus menginap di hotel, ia meminta diberikan kamar tanpa tempat tidur yg tidak terlalu besar karena ia tidak suka tidur di atas kasur, tetapi lebih suka tidur di lantai beralaskan karpet dan selimut. Apakah perilaku tersebut merendahkan posisi presiden?
Presiden Iran tidur di ruang tamu rumahnya sesudah lepas dari pengawal2nya yg selalu mengikuti kemanapun ia pergi. Menurut koran Wifaq, foto2 yg diambil oleh adiknya tersebut, kemudian dipublikasikan oleh media masa di seluruh dunia, termasuk amerika.

cid:13.1161507983@web52203.mail.re2.yahoo.com

12. Sepanjang sholat, anda dapat melihat bahwa ia tidak duduk di baris paling muka

cid:3.1161507983@web52203.mail.re2.yahoo.com

13. Bahkan ketika suara azan berkumandang, ia langsung mengerjakan sholat dimanapun ia berada meskipun hanya beralaskan karpet biasa

cid:11.1161507983@web52203.mail.re2.yahoo.com

14. Ia juga tidak mau bersalaman dengan wanita yang bukan muhrimnya, cukup menundukan kepala sebagai rasa hormat

cid:7.1161507983@web52203.mail.re2.yahoo.com

Mudah-mudahan di pemilu yang akan datang kita akan memiliki Presiden seperti itu…


Monday, December 15, 2008

Kisah Sandrina Malakiano Dan Fundamental

Dari Facebook-nya Sandrina Malakiano Fatah

Setiap kali sebuah musibah datang, maka sangat boleh jadi di belakangnya sesungguhnya menguntit berkah yang belum kelihatan. Saya sendiri yakin bahwa " sebagaimana Islam mengajarkan " di balik kebaikan boleh jadi tersembunyi keburukan dan di balik keburukan boleh jadi tersembunyi kebaikan. Saya sendiri membuktikan itu dalam kaitan dengan keputusan memakai hijab sejak pulang berhaji di awal 2006. Segera setelah keputusan itu saya buat, sesuai dugaan, ujian pertama datang dari tempat saya bekerja, Metro TV. Sekalipun tanpa dilandasi aturan tertulis, saya tidak diperkenankan untuk siaran karena berjilbab. Pimpinan Metro TV sebetulnya sudah mengijinkan saya siaran dengan jilbab asalkan di luar studio, setelah berbulan-bulan saya memperjuangkan izinnya. Tapi, mereka yang mengelola langsung beragam tayangan di Metro TV menghambat saya di tingkat yang lebih operasional. Akhirnya, setelah enam bulan saya berjuang, bernegosiasi, dan mengajak diskusi panjang sejumlah orang dalam jajaran pimpinan level atas dan tengah di Metro TV, saya merasa pintu memang sudah ditutup. Sementara itu, sebagai penyiar utama saya mendapatkan gaji yang tinggi. Untuk menghindari fitnah sebagai orang yang makan gaji buta, akhirnya saya memutuskan untuk cuti di luar tanggungan selama proses negosiasi berlangsung. Maka, selama enam bulan saya tak memperoleh penghasilan, tapi dengan status yang tetap terikat pada institusi Metro TV. Setelah berlama-lama dalam posisi yang tak jelas dan tak melihat ada sinar di ujung lorong yang gelap, akhirnya saya mengundurkan diri. Pengunduran diri ini adalah sebuah keputusan besar yang mesti saya buat. Saya amat mencintai pekerjaan saya sebagai reporter dan presenter berita serta kemudian sebagai anchor di televisi. Saya sudah menggeluti pekerjaan yang amat saya cintai ini sejak di TVRI Denpasar, ANTV,
sebagai freelance untuk sejumlah jaringan TV internasional, TVRI Pusat, dan kemudian Metro TV selama 15 tahun, ketika saya kehilangan pekerjaan itu. Maka, ini adalah sebuah musibah besar bagi saya. Tetapi, dengan penuh keyakinan bahwa Allah akan memberi saya yang terbaik dan bahwa dunia tak selebar daun Metro TV, saya bergeming
dengan keputusan itu. Saya yakin di balik musibah itu, saya akan mendapat berkah dari-Nya.

HIKMAH BERJILBAB
Benar saja. Sekitar satu tahun setelah saya mundur dari Metro TV, ibu saya terkena radang pankreas akut dan mesti dirawat intensif di rumah sakit. Saya tak bisa membayangkan, jika saja saya masih aktif di Metro TV, bagaimana mungkin saya bisa mendampingi Ibu selama 47 hari di rumah sakit hingga Allah memanggilnya pulang pada 28 Mei 2007 itu. Bagaima mungkin saya bisa menemaninya selama 28 hari di ruang rawat inap biasa, menungguinya di luar ruang operasi besar serta dua hari di ruang ICU,
dan kemudian 17 hari di ruang ICCU?

Hikmah lain yang saya sungguh syukuri adalah karena berjilbab saya mendapat kesempatan untuk mempelajari Islam secara lebih baik. Kesempatan ini datang antara lain melalui beragam acara bercorak keagamaan yang saya asuh di beberapa stasiun TV. Metro TV sendiri memberi saya kesempatan sebagai tenaga kontrak untuk menjadi host dalam acara pamer cakap (talkshow) selama bulan Ramadhan. Karena itulah, saya beroleh kesempatan untuk menjadi teman dialog para profesor di acara Ensiklopedi Al Quran selama Ramadhan tahun lalu, misalnya. Saya pun mendapatkan banyak sekali pelajaran dan pemahaman baru tentang agama dan keberagamaan. Islam tampil makin atraktif, dalam bentuknya yang tak bisa saya bayangkan sebelumnya. Saya bertemu Islam yang hanif, membebaskan, toleran, memanusiakan manusia, mengagungkan ibu dan kaum perempuan, penuh penghargaan terhadap kemajemukan, dan melindungi minoritas.

Saya sama sekali tak merasa bahwa saya sudah berislam secara baik dan mendalam. Tidak sama sekali. Berjilbab pun, perlu saya tegaskan, bukanlah sebuah proklamasi tentang kesempurnaan beragama atau tentang kesucian. Berjibab adalah upaya yang amat personal untuk memilih kenyamanan hidup. Berjilbab adalah sebuah perangkat untuk memperbaiki diri tanpa perlu mempublikasikan segenap kebaikan itu pada orang lain. Berjilbab pada akhirnya adalah sebuah pilihan personal. Saya menghormati pilihan personal orang lain untuk tidak berjilbab atau bahkan untuk berpakaian seminim yang ia mau atas nama kenyamanan personal mereka. Tapi, karena sebab itu, wajar saja jika saya menuntut penghormatan serupa dari siapapun atas pilihan saya menggunakan jilbab.

Hikmah lainnya adalah saya menjadi tahu bahwa fundamentalisme bisa tumbuh di mana saja. Ia bisa tumbuh kuat di kalangan yang disebut puritan. Ia juga ternyata bisa berkembang di kalangan yang mengaku dirinya liberal dalam berislam. Tak lama setelah berjilbab, di tengah proses bernegosiasi dengan Metro TV, saya menemani suami untuk bertemu dengan Profesor William Liddle " seseorang yang senantiasa kami perlakukan penuh hormat sebagai sahabat, mentor, bahkan kadang-kadang orang tua " di sebuah lembaga nirlaba. Di sana kami juga bertemu dengan sejumlah teman, yang dikenali publik sebagai tokoh-tokoh liberal dalam berislam. Saya terkejut mendengar komentar-komentar mereka tentang keputusan saya berjilbab. Dengan nada sedikit melecehkan, mereka memberikan sejumlah komentar buruk, sambil seolah-olah membenarkan keputusan Metro TV untuk melarang saya siaran karena berjilbab. Salah satu komentar mereka yang masih lekat dalam ingatan saya adalah, Kamu tersesat. Semoga segera kembali ke jalan yang benar. Saya sungguh terkejut karena sikap mereka bertentangan secara diametral dengan gagasan-gagasan yang konon mereka perjuangkan, yaitu pembebasan manusia dan penghargaan hak-hak dasar setiap orang di tengah
kemajemukan. Bagaimana mungkin mereka tak faham bahwa berjilbab adalah hak yang dimiliki oleh setiap perempuan yang memutuskan memakainya? Bagaimana mereka tak mengerti bahwa jika sebuah stasiun TV membolehkan perempuan berpakaian minim untuk tampil atas alasan hak asasi, mereka juga semestinya membolehkan seorang perempuan berjilbab untuk memperoleh hak setara? Bagaimana mungkin mereka memiliki pikiran bahwa dengan kepal yang ditutupi jilbab maka kecerdasan seorang perempuan langsung meredup dan otaknya mengkeret mengecil?

Bersama suami, saya kemudian menyimpulkan bahwa fundamentalisme " mungkin dalam bentuknya yang lebih berbahaya " ternyata bisa bersemayam
di kepala orang-orang yang mengaku liberal. ***