Wednesday, November 26, 2008

Motivasi

What I've Learnt Today ?
www.iLuvislam.com
masleeha
editor : kasihsayang


I've learned that no matter what happens, or how bad it seems today, life does go on, and it will be better tomorrow."

"I've learned that regardless of your relationship with your parents, you'll miss them when they're gone from your life." "I've learned that making a 'living' is not the same thing as 'making a life'."

"I've learned that life sometimes gives you a second chance."

"I've learned that you shouldn't go through life with a catcher's mitt on both hands; you need to be able to throw some things back."

"I've learned that whenever I decide something with an open heart, I usually make the right decision."

"I've learned that even when I have pains, I don't have to be one." "I've learned that every day you should reach out and touch someone."

"People love a warm hug, or just a friendly pat on the back."


"I've learned that I still have a lot to learn." "I've learned that people will forget what you said, people will forget what you did, but people will never forget how you made them feel."

APPRECIATE THINGS AROUND YOU...THERE'S A REASON WHY ALLAH DID THAT. ^_^

Abi Aku Mohon Maaf....!

Hati Mukmin Pasti Menangis
www.iluvislam.com
dihantar oleh: ArWa
Editor: deynarashid


Suatu petang, di Tahun 1525. Penjara tempat tahanan orang-orang di situ terasa hening mencengkam. Jeneral Adolf Roberto, pemimpin penjara yang terkenal bengis, tengah memeriksa setiap kamar tahanan. Setiap banduan penjara membongkokkan badannya rendah-rendah ketika ‘algojo penjara’ itu melintasi di hadapan mereka. Kerana kalau tidak, sepatu ‘boot keras’ milik tuan Roberto yang fanatik Kristian itu akan mendarat di wajah mereka.

Roberto marah besar ketika dari sebuah kamar tahanan terdengar seseorang mengumandangkan suara-suara yang amat ia benci.

“Hai… hentikan suara jelekmu! Hentikan… !” Teriak Roberto sekeras-kerasnya sambil membelalakkan mata.

Namun apa yang terjadi? Laki-laki dikamar tahanan tadi tetap saja bersenandung dengan khusyu’nya. Roberto bertambah berang. Algojo penjara itu menghampiri kamar tahanan yang luasnya tak lebih sekadar cukup untuk satu orang. Dengan marah ia menyemburkan ludahnya ke wajah tua sang tahanan yang keriput hanya tinggal tulang. Tak puas sampai di situ, ia lalu menyucuh wajah dan seluruh badan orang tua renta itu dengan rokoknya yang menyala. Sungguh ajaib… Tak terdengar secuil pun keluh kesakitan.

Bibir yang pucat kering milik sang tahanan amat galak untuk meneriakkan kata Rabbi, wa ana ‘abduka… Tahanan lain yang menyaksikan kebiadaban itu serentak bertakbir sambil berkata, “Bersabarlah wahai ustaz… InsyaALlah tempatmu di Syurga.”

Melihat kegigihan orang tua yang dipanggil ustaz oleh sesama tahanan, ‘algojo penjara’ itu bertambah memuncak marahnya. Ia memerintahkan pegawai penjara untuk membuka sel, dan ditariknya tubuh orang tua itu keras-kerasnya sehingga terjerembab di lantai.

“Hai orang tua busuk! Bukankah engkau tahu, aku tidak suka bahasa hinamu itu?! Aku tidak suka apa-apa yang berhubung dengan agamamu! Ketahuilah orang tua dungu, bumi Sepanyol ini kini telah berada dalam kekuasaan bapa kami, Tuhan Jesus. Anda telah membuat aku benci dan geram dengan ’suara-suara’ yang seharusnya tidak didengari lagi di sini. Sebagai balasannya engkau akan kubunuh. Kecuali, kalau engkau mahu minta maaf dan masuk agama kami.”

Mendengar “khutbah” itu orang tua itu mendongakkan kepala, menatap Roberto dengan tatapan yang tajam dan dingin. Ia lalu berucap, “Sungguh… aku sangat merindukan kematian, agar aku segera dapat menjumpai kekasihku yang amat kucintai, Allah. Bila kini aku berada di puncak kebahagiaan karena akan segera menemuiNya, patutkah aku berlutut kepadamu, hai manusia busuk? Jika aku turuti kemahuanmu, tentu aku termasuk manusia yang amat bodoh.”

Sejurus sahaja kata-kata itu terhenti, sepatu lars Roberto sudah mendarat di wajahnya. Laki-laki itu terhuyung. Kemudian jatuh terkapar di lantai penjara dengan wajah berlumuran darah. Ketika itulah dari saku baju penjaranya yang telah lusuh, meluncur sebuah ‘buku kecil’. Adolf Roberto berusaha memungutnya. Namun tangan sang Ustaz telah terlebih dahulu mengambil dan menggenggamnya erat-erat.

“Berikan buku itu, hai laki-laki dungu!” bentak Roberto.

“Haram bagi tanganmu yang kafir dan berlumuran dosa untuk menyentuh barang suci ini!” ucap sang ustaz dengan tatapan menghina pada Roberto.

Tak ada jalan lain, akhirnya Roberto mengambil jalan paksa untuk mendapatkan buku itu. Sepatu lars seberat dua kilogram itu ia gunakan untuk menginjak jari-jari tangan sang ustaz yang telah lemah. Suara gemeretak tulang yang patah terdengar menggetarkan hati. Namun tidak demikian bagi Roberto. Laki-laki bengis itu malah merasa bangga mendengar gemeretak tulang yang terputus. Bahkan ‘algojo penjara’ itu merasa lebih puas lagi ketika melihat tetesan darah mengalir dari jari-jari musuhnya yang telah hancur. Setelah tangan tua itu tak berdaya, Roberto memungut buku kecil yang membuatnya baran. Perlahan Roberto membuka sampul buku yang telah lusuh. Mendadak algojo itu termenung.

“Ah… seperti aku pernah mengenal buku ini. Tetapi bila? Ya, aku pernah mengenal buku ini.”

Suara hati Roberto bertanya-tanya. Perlahan Roberto membuka lembaran pertama itu. Pemuda berumur tiga puluh tahun itu bertambah terkejut tatkala melihat tulisan-tulisan “aneh” dalam buku itu. Rasanya ia pernah mengenal tulisan seperti itu dahulu. Namun, sekarang tak pernah dilihatnya di bumi Sepanyol.

Akhirnya Roberto duduk di samping sang ustaz yang sedang melepaskan nafas-nafas terakhirnya. Wajah bengis sang algojo kini diliputi tanda tanya yang dalam. Mata Roberto rapat terpejam. Ia berusaha keras mengingat peristiwa yang dialaminya sewaktu masih kanak-kanak. Perlahan, sketsa masa lalu itu tergambar kembali dalam ingatan Roberto.

Pemuda itu teringat ketika suatu petang di masa kanak-kanaknya terjadi kekecohan besar di negeri tempat kelahirannya ini. Petang itu ia melihat peristiwa yang mengerikan di lapangan Inkuisisi (lapangan tempat pembantaian kaum muslimin di Andalusia). Di tempat itu tengah berlangsung pesta darah dan nyawa. Beribu-ribu jiwa tak berdosa gugur di bumi Andalusia. Di hujung kiri lapangan, beberapa puluh wanita berhijab (jilbab) digantung pada tiang-tiang besi yang terpancang tinggi. Tubuh mereka gelantungan tertiup angin petang yang kencang, membuat pakaian muslimah yang dikenakan berkibar-kibar di udara.

Sementara, di tengah lapangan ratusan pemuda Islam dibakar hidup-hidup pada tiang-tiang salib, hanya karena tidak mahu memasuki agama yang dibawa oleh para rahib. Seorang kanak- kanak laki-laki comel dan tampan, berumur sekitar tujuh tahun, malam itu masih berdiri tegak di lapangan Inkuisisi yang telah senyap. Korban-korban kebiadaban itu telah syahid semua. Kanak kanak comel itu melimpahkan airmatanya menatap sang ibu yang terkulai lemah di tiang gantungan. Perlahan-lahan kanak - kanak itu mendekati tubuh sang ummi yang tak sudah bernyawa, sambil menggayuti abinya.

Sang anak itu berkata dengan suara parau, “Ummi, ummi, mari kita pulang. Hari telah malam. Bukankah ummi telah berjanji malam ini akan mengajariku lagi tentang alif, ba, ta, tsa… .? Ummi, cepat pulang ke rumah ummi… “

Budak kecil itu akhirnya menangis keras, ketika sang ummi tak jua menjawab ucapannya. Ia semakin bingung dan takut, tak tahu apa yang harus dibuat . Untuk pulang ke rumah pun ia tak tahu arah. Akhirnya budak itu berteriak memanggil bapaknya, “Abi… Abi… Abi… “ Namun ia segera terhenti berteriak memanggil sang bapa ketika teringat petang kelmarin bapanya diseret dari rumah oleh beberapa orang berseragam.

“Hai… siapa kamu?!” jerit segerombolan orang yang tiba-tiba mendekati budak tersebut. “Saya Ahmad Izzah, sedang menunggu Ummi… “ jawabnya memohon belas kasih.

“Hah… siapa namamu budak, cuba ulangi!” bentak salah seorang dari mereka. “Saya Ahmad Izzah… “ dia kembali menjawab dengan agak kasar. Tiba-tiba, Plak! sebuah tamparan mendarat di pipi si kecil.

“Hai budak… ! Wajahmu cantik tapi namamu hodoh. Aku benci namamu. Sekarang kutukar namamu dengan nama yang lebih baik. Namamu sekarang ‘Adolf Roberto’… Awas! Jangan kau sebut lagi namamu yang buruk itu. Kalau kau sebut lagi nama lamamu itu, nanti akan kubunuh!” ancam laki-laki itu.

Budak itu mengigil ketakutan, sembari tetap menitiskan air mata. Dia hanya menurut ketika gerombolan itu membawanya keluar lapangan Inkuisisi. Akhirnya budak tampan itu hidup bersama mereka. Roberto sedar dari renungannya yang panjang. Pemuda itu melompat ke arah sang tahanan. Secepat kilat dirobeknya baju penjara yang melekat pada tubuh sang ustaz. Ia mencari-cari sesuatu di pusat laki-laki itu. Ketika ia menemukan sebuah ‘tanda hitam’ ia berteriak histeria, “Abi… Abi… Abi… “

Ia pun menangis keras, tak ubahnya seperti Ahmad Izzah dulu. Fikirannya terus bergelut dengan masa lalunya. Ia masih ingat betul, bahwa buku kecil yang ada di dalam genggamannya adalah Kitab Suci milik bapanya, yang dulu sering dibawa dan dibaca ayahnya ketika hendak menidurkannya. Ia jua ingat betul ayahnya mempunyai ‘tanda hitam’ pada bahagian pusat. Pemuda bengis itu terus meraung dan memeluk erat tubuh tua nan lemah. Tampak sekali ada penyesalan yang amat dalam atas tingkah-lakunya selama ini.

Lidahnya yang sudah berpuluh-puluh tahun lupa akan Islam, saat itu dengan spontan menyebut, “Abi… aku masih ingat alif, ba, ta, tha… “ Hanya sebatas kata itu yang masih terakam dalam benaknya. Sang ustaz segera membuka mata ketika merasakan ada tetesan hangat yang membasahi wajahnya. Dengan tatapan samar dia masih dapat melihat seseorang yang tadi menyeksanya habis-habisan kini sedang memeluknya.

“Tunjuki aku pada jalan yang telah engkau tempuhi Abi, tunjukkan aku pada jalan itu… ” Terdengar suara Roberto meminta belas. Sang ustaz tengah mengatur nafas untuk berkata-kata, lalu memejamkan matanya. Air matanya pun turut berlinang. Betapa tidak, jika setelah puluhan tahun, ternyata ia masih sempat berjumpa dengan buah hatinya, di tempat ini. Sungguh tak masuk akal. Ini semata-mata bukti kebesaran Allah.


Sang Abi dengan susah payah masih boleh berucap. “Anakku, pergilah engkau ke Mesir. Di sana banyak saudaramu. Katakan saja bahwa engkau kenal dengan Syaikh Abdullah Fattah Ismail Al-Andalusy. Belajarlah engkau di negeri itu,”

Setelah selesai berpesan sang ustaz menghembuskan nafas terakhir dengan berbekal kalimah indah “Asyahadu anla IllaahailALlah, wa asyahadu anna Muhammad Rasullullah… ‘.

Beliau pergi dengan menemui Rabbnya dengan tersenyum, setelah sekian lama berjuang dibumi yang fana ini. Kini Ahmah Izzah telah menjadi seorang alim di Mesir. Seluruh hidupnya dibaktikan untuk agamanya, Islam, sebagai ganti kekafiran yang di masa muda sempat disandangnya. Banyak pemuda Islam dari berbagai penjuru berguru dengannya…


Wednesday, August 20, 2008

Website Templates, Web Templates, Flash, Word Templates - DreamTemplate

Website Templates, Web Templates, Flash, Word Templates - DreamTemplate

Wednesday, August 13, 2008

Gaji Dua Kali Lipat

Suatu hari seorang bos besar dan terkenal disiplin dari sebuah perusahaan terkemuka datang mengontrol karyawannya tiba- tiba, semua karyawan dengan serta merta bekerja lebih giat dari biasanya ( entah apakah mereka takut dibilang malas atau karena ingin mencari perhatian si bos ) .

Ketika si bos ini turun dari lift dia mendapati seseorang sedang berdiri dengan malasnya sambil mengisap sebatang rokok didekat recepcionist. Tanpa bertanya siapa dia bos itu langsung menegur ;
" Kamu sudah menyelesaikan pekerjaanmu? " Tanya bos itu dengan tatapan mata tidak suka.

Orang itu dengan santai menjawab, " Sudah pak..."
" Berapa kamu di gaji dalam seminggu ? " Tanya bos lagi.
" Seratus ribu, Pak.."
Si Bos semakin kesal dengan sikap pegawai itu yang sangat tidak sopan dan terkesan menyepelekan pekerjaan, tanpa ba-bi-bu si Bos lalu mengeluarkan sejumlah uang dari saku jasnya dan memberikan uang itu kepada pegawai yang tidak sopan itu.

" Sini kamu! Ini saya kasih kamu gaji dua kali lipat dari gaji kamu, tapi saya minta kamu untuk segera meninggalkan tempat ini..!! " Dengan nada kesal si Bos memberikan uang dua ratus ribu kepada pegawai itu.

Spontan pegawai itu nyengir lalu berterima kasih pada si Bos serta pergi tanpa merasa berdosa.
Setelah pegawai itu pergi, si Bos lalu menghampiri recepcionist dan bertanya siapa pegawai itu dan sudah berapa lama dia bekerja disini. Si recepcionist masih dengan wajah kebingungan menjawab pertanyaan si Bos.
" Oh..., dia itu pengantar Pizza langganan karyawan sini , Pak..! "

Si Bos " ??? "

Sunday, August 10, 2008

Tak ada lagi tulisan

jiwa yang hampa seakan tiada yang ingin tertulis, tatkala hari itu telah berganti....nyawapun akan berganti...tapi aku ingin tetap menulis.....menulis.....dan menulis....

semoga tidak pernah hilang ideku untuk menuangkan ide..


amiin

Monday, July 21, 2008

Kisah Hikmah

KISAH Tukang Kayu

Selesai. Ini rumah terakhir yang dipesan olehnya. Tiga puluh tahun sudah, aku bekerja dalam kerya. Akulah tukang kayu terbaik disini. Segala desain rumah kuwujudnyatakan menjadi kaya indah dalam kontruksi kokoh. Tapi, aku lelah. Setiap rumah yang kubangun telah menguras energy yang luar biasa dari tubuhku. Aku seorang perfectionist yang selalu menginginkan hasil terbaik dalam kerja kerasku.

Aku telah puas dengan segala kerja kerasku selama ini. Hamper semua jenis rumah telah kuselesaikan. Bahkan, hamper semua rumah di perumahan ini hasil kerjaku. Aku ingin berhenti. Menikmati sisa hidupku sebagai manusia biasa yang bukan si tukang kayu.

Menikmati hari- hari aku bisa bermain dengan anakku dalam waktu sepuasnya. Menikamti waktu- waktu aku bisa bertemu dengan-Nya dengan lebih khusyu tak lagi ada pikiran tentang jenis kayu mana yang cocok untuk kontruksi ini, bagaimana agar desain aneh ini bisa berdiri dengan kokoh dan masalah- masalah kontruksi rumah lainnya.

Semuanya berjalan seperti yang kuharapkan kecuali setelah dia memaksaku membuat satu lagi rumah.

“ Aku mengerti. Aku telah bekerja denganmu selama tiga puluh tahun. Aku mengerti kau lelah. Tapi, cobalah. Ini yang terakhir. Setelah ini, berhentilah. Dan nikamti hidupmu dengan indah. “

“ Tak bisa. Aku tak lagi punya gairah untuk membuat sebuah rumah. Apalagi dengan desain seperti ini. Ini akan sangat melelahkan. Dan aku tak punya lagi kekuatan, bahkan untuk sekedar menyambung sau balok kayu dengan balok kayu lainnya. Tak kau lihat wajah lelah ini?”

“ Kumohon. Aku mengerti hal itu. Aku hanya ingin kau membuat karya terakhirmu untukku. Aku ingin membuat satu kenangan indah tentang bagaimana hubungan kita. Bagaimana kita bersama- sama membangun usaha ini. Aku tahu kau te;ah bekerja keras. Aku tahu kau lelah, tpi, kumohon kerjakanlah ini untukku. Bila ada satu permintaan yang aku tak ingin kau menolaknya, iinilah permintaan itu. Kumohon dengan sangat. Kumohon……”

Nafasku terasa berat. Aku lelah dan dia mengerti itu. Aku membuat satu lagi rumah itu seperti memindahkan gunung dari kakinya ke sebuah tempat jauh disana dan dia tak mengerti hal ini. Dia temanku. Teman yang paling kusayangi. Aku tak lagi bisa menolak permintaanya, saat dia memohon seperti ini.

“ Baiklah!”

Dengan berat hati aku setuju.

Aku kerjakan semuanya dengan setengah hati. Aku kerjakan dengan lelah hati. Setiap bagian kukerjakan semampuku, bahkan seperlunya. Aku tak lagi mau teliti. Dalam pikiranku, aku hanya ingin menyelesaikan rumah dengan cepat. Agar aku bebas dari kelelahan panjang ini. Agar aku sekedar bebas dari permintaannya yang tak bisa kutolak. Tak peduli nanti hasilnya seperti apa.

Aku tak lagi menjadi seorang perfectionist. Tak peduli lagi bagaimana mencari dan membuat kontruksi ideal untuk desain yang diberikannya. Tak peduli lagi bagaimana rumah ini harus tampak indah dari setiap sudut pandang. Tak peduli lagi dengan bagaimana membuat sebuah proporsi ideal antar bagian rumah. Aku tak peduli. Pikiranku hanya satu, membuat rumah ini dengan cepat!

Pada akhirnya aku bisa menyelesaikannya dengan satu kelegaan: aku telah memenuhi keinginan terakhirnya. Mungkin ia akan kecewa, rumah ini sama sekali tak sama dengan rumah- rumah yang telah kukerjakan sebelumnya : sangat jauh dari sempurna. Jelek sekali! Apa yang telah kulakukan. Bagaimana aku bisa membuat rumah seperti ini/ ah, tak apalah dia nanti kecewa. Setidaknya permintaannya terpenuhi.

“ Kau tahu, kaulah sahabat terbaikku. Kau selalu memberikan kemampuan terbaikmu untukku. Tak pernah ada pelanggan kita yang kecewa. Mereka bahkan sangat mengagumi hasil kerja kerasmu. Rumah- rumahmu adalah yang terbaik disini. Dan aku ingin kaupun menikmati betapa mengagumkannya rumah- rumah yang telah kau bangun. Ini berkaitan dengan permintaan terakhirku. Rumah itu untukmu. Untuk jasamu yang tak terbalas. “

Dia memberiku sebuah kunci. Kunci pintu rumah yang sangat kukenal. Aku menerima kunci itu dengan tangan yang bergetar. Bagaimana tidak, rumah itu untukku!!

Friday, July 18, 2008

Sebuah Pertemuan......By : UNIC

Ketika diri mencari sinar
Secebis cahaya menerangi laluan
Ada kalanya langkahku tersasar
Tersungkur di lembah kegelapan
Bagaikan terdengar bisikan rindu
Mengalun kalimah menyapa keinsafan
Kehadiranmu menyentuh kalbu
Menyalakan obor pengharapan

Tika ku kealpaan
Kau bisikan bicara keinsafan
Kau beri kekuatan tika aku
Diuji dengan dugaan
Saat ku kehilangan keyakinan
Kau nyalakan harapan
Saat ku meragukan keampunan Tuhan
Kau katakan rahmat-Nya
mengatasi segala

Menitis air mataku keharuan
kepada sebuah pertemuan
Kehadiranmu mendamaikan
Hati yang dahulu keresahan
Cinta yang semakin kesamaran
Kau gilap cahaya kebahagiaan
Tulus keikhlasan menjadi ikatan
Dengan restu kasihMu oh Tuhan

Titisan airmata menyubur cinta
Dan rindupun berbunga
Mekar tidak pernah layu
Damainya hati yang dulu resah keliru
Cintaku takkan pudar diuji dugaan
Mengharum dalam harapan
Moga kan kesampaian kepada Tuhan
Lantaran diri hamba kerdil dan hina

Syukur sungguh dihati ini
Dikurniakan teman sejati
Menunjuk jalan dekati-Nya
Tika diri dalam kebuntuan
Betapa aku menghargai kejujuran yang kau beri
Mengajarku mengenal erti Cinta hakiki yang abadi
Tiada yang menjadi impian
Selain rahmat kasihMu Tuhan
Yang terbias pada ketulusan
Sekeping hati seorang insan
Bernama Teman........



fiuuuuhhhh....caaapeeeekkk.....dehhhhh nulisnya!!!