Monday, July 21, 2008

Kisah Hikmah

KISAH Tukang Kayu

Selesai. Ini rumah terakhir yang dipesan olehnya. Tiga puluh tahun sudah, aku bekerja dalam kerya. Akulah tukang kayu terbaik disini. Segala desain rumah kuwujudnyatakan menjadi kaya indah dalam kontruksi kokoh. Tapi, aku lelah. Setiap rumah yang kubangun telah menguras energy yang luar biasa dari tubuhku. Aku seorang perfectionist yang selalu menginginkan hasil terbaik dalam kerja kerasku.

Aku telah puas dengan segala kerja kerasku selama ini. Hamper semua jenis rumah telah kuselesaikan. Bahkan, hamper semua rumah di perumahan ini hasil kerjaku. Aku ingin berhenti. Menikmati sisa hidupku sebagai manusia biasa yang bukan si tukang kayu.

Menikmati hari- hari aku bisa bermain dengan anakku dalam waktu sepuasnya. Menikamti waktu- waktu aku bisa bertemu dengan-Nya dengan lebih khusyu tak lagi ada pikiran tentang jenis kayu mana yang cocok untuk kontruksi ini, bagaimana agar desain aneh ini bisa berdiri dengan kokoh dan masalah- masalah kontruksi rumah lainnya.

Semuanya berjalan seperti yang kuharapkan kecuali setelah dia memaksaku membuat satu lagi rumah.

“ Aku mengerti. Aku telah bekerja denganmu selama tiga puluh tahun. Aku mengerti kau lelah. Tapi, cobalah. Ini yang terakhir. Setelah ini, berhentilah. Dan nikamti hidupmu dengan indah. “

“ Tak bisa. Aku tak lagi punya gairah untuk membuat sebuah rumah. Apalagi dengan desain seperti ini. Ini akan sangat melelahkan. Dan aku tak punya lagi kekuatan, bahkan untuk sekedar menyambung sau balok kayu dengan balok kayu lainnya. Tak kau lihat wajah lelah ini?”

“ Kumohon. Aku mengerti hal itu. Aku hanya ingin kau membuat karya terakhirmu untukku. Aku ingin membuat satu kenangan indah tentang bagaimana hubungan kita. Bagaimana kita bersama- sama membangun usaha ini. Aku tahu kau te;ah bekerja keras. Aku tahu kau lelah, tpi, kumohon kerjakanlah ini untukku. Bila ada satu permintaan yang aku tak ingin kau menolaknya, iinilah permintaan itu. Kumohon dengan sangat. Kumohon……”

Nafasku terasa berat. Aku lelah dan dia mengerti itu. Aku membuat satu lagi rumah itu seperti memindahkan gunung dari kakinya ke sebuah tempat jauh disana dan dia tak mengerti hal ini. Dia temanku. Teman yang paling kusayangi. Aku tak lagi bisa menolak permintaanya, saat dia memohon seperti ini.

“ Baiklah!”

Dengan berat hati aku setuju.

Aku kerjakan semuanya dengan setengah hati. Aku kerjakan dengan lelah hati. Setiap bagian kukerjakan semampuku, bahkan seperlunya. Aku tak lagi mau teliti. Dalam pikiranku, aku hanya ingin menyelesaikan rumah dengan cepat. Agar aku bebas dari kelelahan panjang ini. Agar aku sekedar bebas dari permintaannya yang tak bisa kutolak. Tak peduli nanti hasilnya seperti apa.

Aku tak lagi menjadi seorang perfectionist. Tak peduli lagi bagaimana mencari dan membuat kontruksi ideal untuk desain yang diberikannya. Tak peduli lagi bagaimana rumah ini harus tampak indah dari setiap sudut pandang. Tak peduli lagi dengan bagaimana membuat sebuah proporsi ideal antar bagian rumah. Aku tak peduli. Pikiranku hanya satu, membuat rumah ini dengan cepat!

Pada akhirnya aku bisa menyelesaikannya dengan satu kelegaan: aku telah memenuhi keinginan terakhirnya. Mungkin ia akan kecewa, rumah ini sama sekali tak sama dengan rumah- rumah yang telah kukerjakan sebelumnya : sangat jauh dari sempurna. Jelek sekali! Apa yang telah kulakukan. Bagaimana aku bisa membuat rumah seperti ini/ ah, tak apalah dia nanti kecewa. Setidaknya permintaannya terpenuhi.

“ Kau tahu, kaulah sahabat terbaikku. Kau selalu memberikan kemampuan terbaikmu untukku. Tak pernah ada pelanggan kita yang kecewa. Mereka bahkan sangat mengagumi hasil kerja kerasmu. Rumah- rumahmu adalah yang terbaik disini. Dan aku ingin kaupun menikmati betapa mengagumkannya rumah- rumah yang telah kau bangun. Ini berkaitan dengan permintaan terakhirku. Rumah itu untukmu. Untuk jasamu yang tak terbalas. “

Dia memberiku sebuah kunci. Kunci pintu rumah yang sangat kukenal. Aku menerima kunci itu dengan tangan yang bergetar. Bagaimana tidak, rumah itu untukku!!

Friday, July 18, 2008

Sebuah Pertemuan......By : UNIC

Ketika diri mencari sinar
Secebis cahaya menerangi laluan
Ada kalanya langkahku tersasar
Tersungkur di lembah kegelapan
Bagaikan terdengar bisikan rindu
Mengalun kalimah menyapa keinsafan
Kehadiranmu menyentuh kalbu
Menyalakan obor pengharapan

Tika ku kealpaan
Kau bisikan bicara keinsafan
Kau beri kekuatan tika aku
Diuji dengan dugaan
Saat ku kehilangan keyakinan
Kau nyalakan harapan
Saat ku meragukan keampunan Tuhan
Kau katakan rahmat-Nya
mengatasi segala

Menitis air mataku keharuan
kepada sebuah pertemuan
Kehadiranmu mendamaikan
Hati yang dahulu keresahan
Cinta yang semakin kesamaran
Kau gilap cahaya kebahagiaan
Tulus keikhlasan menjadi ikatan
Dengan restu kasihMu oh Tuhan

Titisan airmata menyubur cinta
Dan rindupun berbunga
Mekar tidak pernah layu
Damainya hati yang dulu resah keliru
Cintaku takkan pudar diuji dugaan
Mengharum dalam harapan
Moga kan kesampaian kepada Tuhan
Lantaran diri hamba kerdil dan hina

Syukur sungguh dihati ini
Dikurniakan teman sejati
Menunjuk jalan dekati-Nya
Tika diri dalam kebuntuan
Betapa aku menghargai kejujuran yang kau beri
Mengajarku mengenal erti Cinta hakiki yang abadi
Tiada yang menjadi impian
Selain rahmat kasihMu Tuhan
Yang terbias pada ketulusan
Sekeping hati seorang insan
Bernama Teman........



fiuuuuhhhh....caaapeeeekkk.....dehhhhh nulisnya!!!

Wednesday, July 16, 2008

Nekdot

Robot Pendeteksi Kebohongan

Suatu hari seorang penemu bernama Budi berhasil membuat robot pendeteksi kebohongan, intinya robot itu akan menampar siapa saja yang berbicara bohong dekat dia. Si Budi lalu membawa pulang robot itu kerumahnya dan menceritakan dengan bangga keberhasilan dia membuat robot pendeteksi kebohongan. Ketika sedang asyik bercerita, tiba- tiba anaknya pulang...dalam hati Budi ingin menguji kelayakan robot ini. Budi kemudian menegur anaknya " Anto, darimana saja kamu....jam segini baru pulang?" Tanya Budi pada Anto, " Mmmm....anu pa, dari rumah temen.." Jawab Anto. " Ngapain??" tanya Budi dengan wajah galak, " Kami habis belajar, pa " tiba- tiba "Plaak...!! " robot itu menampar pipi Anto....." Naah kan kamu bohong, ayo ngapain kamu sama teman kamu disana? ". Anto menjawab lagi sambil meringis " Nonton..pa".
" Nonton apa? " tanya Budi, " Nonton sinetron pa..." Plaaak..!! robot itu kembali menampar pipi Anton, " Kamu bohong lagi, Anton! Ayo ngaku kamu habis ngapain? " Anto semakin meringis dan berkata lirih " Iiya...iya...pa Anto nonton film orang dewasa..." sambil melirik robot itu, namun robot itu tak bergeming. " Kamu ini.....masih kecil sudah menonton film orang dewasa, tau nggak? Papa ini waktu kecil tidak pernah nonton film dewasa...! " Plaaak....!! Tiba- tiba robot itu menampar pipi Budi, dari dalam kamar istrinya datang dan berkata : " alaaahhh.....bapak sama anak sama saja....! sudahlah pa....maafkan saja Anto, dia kan anakmu juga..." Tiba- tiba...Plaaaakk...!!! Robot itu menampar pipi istri Budi.

Tuesday, July 15, 2008

Ramadhan VS Pemilu

Persiapan Pemilu 2009 M (282 Hari Lagi)

Hajatan politik besar-besaran bangsa ini masih satu tahun lagi akan dilaksanakan, 282 hari lagi kalau mengutip situsnya Komisi Pemilihan Umum, namun kita telah disuguhkan pada persiapan dan penyambutan yang luar biasa meriah bagi para pemeran utama hajatan tersebut.

Partai-partai politik sudah menggerakan mesin-mesin politknya, di sana-sini kita sudah bisa melihat bendera-bendera partai politik berkibar di mana-mana, banyak. Para tokoh-tokoh partai memasang iklan mempromosikan diri dan partainya serta saling unjuk diri, menunjukkan siapa saja para pendukungnya di televisi, koran, dan bahkan mungkin radio, mulai mendekat lagi ke rakyat.

Persiapan Ramadhan 1429 H (65 Hari Lagi)

Namun kontras dengan persiapan bulan yang dimuliakan dalam Islam, bulan yang lebih baik dari seribu bulan, bulan Ramadhan. Bulan yang di mana Rasulullah SAW pernah bersabda,

Dari Abu Hurairah radhiallahu 'anhu: Adalah Rasulullah SAW memberi kabar gembira kepada para sahabatnya dengan bersabda, "Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan yang diberkahi. Allah mewajibkan kepadamu puasa didalamnya; pada bulan ini pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan para setan diikat; juga terdapat pada bulan ini malam yang lebih baik daripada seribu bulan, barangsiapa tidak memperoleh kebaikannya maka dia tidak memperoleh apa-apa." (HR Ahmad dan An-Nasa'i)

Rentang jarak pelaksanaan pemilu 2009 dan Ramadhan 1429 H sangatlah jauh berbeda, lalu, sudah seberapa meriah pula kita mempersiapkan diri tuk menyambutnya..?

Penghargaan seseorang terhadap sesuatu mencerminkan urgensi hal tersebut.

Bukankah kita akan bersiap jauh-jauh hari sebelumnya jika tahu bahwa akan ada sebuah hal besar yang kan hadir mengisi/mempengaruhi hidup kita..? Jika akan ada presiden yang akan bertamu ke rumah kita..? Jika akan ada ujian yang kan mempengaruhi kelanjutan masa depan pendidikan atau pekerjaan kita..? Sudah sebaik apa penghargaan kita terhadap bulan Ramadhan dibandingkan dengan pemuliaan kita terhadap hal-hal lain..? Inilah bulan yang harusnya kaum muslimin agungkan, dan sudah seberapa besar pemaknaan kita terhadap bulan Ramadhan ini..?

Mari sama-sama kita tengok ulang diri kita masing-masing. Jangan malu kalau memang baru sebatas ucapan di lidah kelu sebentuk pengagungan terhadap Ramadhan, namun ternyata hati ini tetap dingin membeku dalam mempersiapkannya.

Astagfirullah...

Lihat Hatimu...!!

Dari An Nawas bin Sam'an radhiallahu anhu, dari Nabi shalallahu alaihi wa salam, beliau bersabda, "Kebajikan itu keluhuran akhlak sedangkan dosa adalah apa-apa yang dirimu merasa ragu-ragu dan kamu tidak suka jika orang lain mengetahuinya" (HR Muslim)

Wahai saudara/i-ku, mari kita tengok ke dalam hati kita masing-masing, ada berapa banyak perbuatan-perbuatan yang membuat hati kita was-was dan tidak ingin orang lain mengetahuinya.

Jujurlah, gunakan kejernihan hatimu dalam menengok ulang ke dalam jiwa. Sungguh, hanya hati yang bersih yang kan bisa meraba noda.

Dari Wabishah bin Ma'bad radhiallahu anhu, ia berkata: ”Aku telah datang kepada Rasulullah shalallahu alaihi wa salam, lalu beliau bersabda: 'Apakah engkau datang untuk bertanya tentang kebajikan? ' Aku menjawab: 'Benar.' Beliau bersabda: 'Mintalah fatwa dari hatimu. Kebajikan itu adalah apa-apa yang menentramkan jiwa dan menenangkan hati, dan dosa itu adalah apa-apa yang meragukan jiwa dan meresahkan hati, walaupun orang-orang memberikan fatwa kepadamu dan mereka membenarkannya.’” (HR Ahmad dan Darimi, Hadits hasan)

Jika ada yang membuat hati kita resah, ragu-ragu dan tidak ingin agar ada oran lain yang tahu, maka berhati-hatilah, karena bisa jadi itu merupakan perbuatan dosa.

Karenanya bertaubatlah, jauhi, dan berhati-hatilah terhadap perbuatan-perbuatan tersebut. Sebelum ajal datang menjemput dan selama kita masih merasa memiliki iman dan Islam dalam dada.

Semoga Allah selalu menunjuki dan menjaga hidayah yang telah kita terima.

*sebuah pengingat untuk diri sendiri*

Saturday, July 12, 2008

Dari Antho

TRICK NELPON GRATIS

Temen-2 ini agak rahasia…
Saya sudah mencobanya, dan terbukti membuat kantong
tidak terganggu dan tetap tebal…

Trik menggunakan HP tanpa pulsa.

Ini adalah trik yang bisa dicoba, disadap dari sumber
yang tidak mau disebutkan namanya karena tidak mau
ketahuan.

PULSA HANDPHONE MAHAL???

Manfaatkan kelemahan sistem ponsel Anda sehingga Anda
bisa main telepon dengan GRATIS, kemana saja,
berapapun lamanya!!!
Yang dibutuhkan adalah cuma beberapa menit untuk
mempelajari tulisan ini dengan teliti sekaligus
langsung mempraktekkannya ke ponsel Anda.

Inilah yang akan saya share ke teman-teman sekalian.

Langkah Pertama :

Catat spesifikasi ponsel Anda meliputi :
1. Merk (misal Nokia, Siemens, Motorola,dll)
2. Jenis (misal 3210, M35, 3310, T18S)
3. No IMEI (optional, tapi sebaiknya dicatat, kalau
ada masalah)

Langkah Kedua :

Siapkan segera no telpon yang akan dituju! , serta
amati kuat sinyal pada indikator. Sebaiknya sinyal
pada posisi maksimum,artinya Anda tidak boleh terlalu
jauh dari base station, atau bila Anda berada dalam
ruangan tertutup, sebaiknya Anda keluar atau mencari
tempat dimana kuat sinyal diterima maksimal. Pastikan
no telepon yang Anda tuju siap untuk menerima telepon,
ini bisa Anda lakukan dengan menelepon, kemudian tutup
(missed call). Bila sedang sibuk, tunggu sampai idle.

Langkah Ketiga :

Lakukan prosedur eksekusi berikut :
1.Tekan tombol bintang (*)
2.Tekan tombol angka konversi untuk merk Anda :
Nokia : 23
Motorola : 17
Ericsson : 45
Samsung : 19
Siemens : 20

Untuk beberapa merk lain sedang dalam proses
pencarian.

3.Tekan tombol seri ponsel Anda :
Misal :
Nokia N3210 = 3210
Ericsson T10S = 10
Ericsson A6188 = 6188
Jadi ambil angkanya saja.

4.Tekan tombol pagar (#)
5.Ikuti dengan nomor telepon yang akan dituju :
Format : kode negara + kode wilayah + no telepon
Kalau yang ditelepon di Sukabumi,nomernya
222305 (no telp Stezie), maka harus ditekan: 62266222305

Keterangan
Kode negara : 62 dan Kode wilayah : 0266

6.Tekan tombol pagar (#)

Jadi sebagai contoh kalau saya punya ponsel Nokia
N73, dan ingin menelpon ke Palembang dengan no
telepon 370011(kode kota 0711), maka saya harus
menekan :*2373#62711370011#

Silahkan periksa sekali lagi sebelum kita melakukan
eksekusi terakhir!!!

LANGKAH TERAKHIR : VERY IMPORTANT THING

Pastikan pada layar ponsel Anda tertera karakter
dengan urutan yang benar! Kesalahan penggunaan bias
menyebabkan kartu Anda tidak berlaku lagi, dan saya
tidak bertanggungjawab untuk hal tersebut. Jadi
silakan periksa sekali lagi.

Sebelum Anda tekan Enter atau Call,yang harus Anda
perhatikan bahwa anda HARUS segera mematikan ponsel
pada hitungan antara detik ke-2 dan ke-3!!! Tidak
boleh LEBIH dan tidak boleh KURANG!!! Anda bisa
melakukannya pada detik ke 2.1 atau 2.4 atau 2.7
setelah penekanan tombol Call.

Sebaiknya Anda mempersiapkan jam tangan, lebih baik
bila ada stopwatch-nya. Setelah itu Anda bisa bicara
sepuasnya, mau beberapa jam, mau beberapa hari atau
bahkan berbulan-bulan, mau berteriak sekerasnya,
dijamin Anda tidak akan mengeluarkan biaya kecuali
yang telah dijelaskan di atas. Sebaiknya Anda
berbicara jangan di depan muka umum, karena akan
memalukan Anda sendiri.

Kalau sudah puas atau sudah lelah berbicara, silakan
nyalakan kembali ponsel Anda, siapa tahu ada orang
yang serius mau menghubungi Anda. Kasihan dia, mau
menelepon Anda tapi masuk ke mailbox terus.

Hihihihi…. Makanya bacanya jangan terlalu serius
masa’ mau nelpon nggak mau keluar pulsa, yang bener
aja..

Thursday, July 10, 2008

CERPEN...

Mimpi Terindah Sebelum Mati

Cerpen Maya Wulan

RAMADHANI, sekalipun sedang sekarat, aku masih ingat dengan ucapanku pada suatu kali. Di satuan waktu yang lain, berkali-kali kukatakan kelak aku akan lebih dulu pergi darimu. "Mati muda," kataku datar. Dan kau selalu saja mengunci mulutku dengan cara mencium bibirku. Memutus kata-kataku yang menurutmu tidak pantas. Hanya saja pada satu waktu, sebelum akhirnya kita harus berpisah untuk meluncur dihembuskan ke perut bumi, kau sempat menampar pipi kiriku ketika lagi-lagi aku mengulang kalimat tentang kematian itu. Tidak ada lagi ciuman seperti biasanya. Aku berpikir mungkin kau sudah tak bisa bersabar menghadapiku. Atau kau terlalu takut? Padahal aku sudah begitu sering bicara tentang daun yang bertuliskan namaku di ranting pohon itu. Bahwa dia, kataku, sedang menguning dan beranjak kering untuk kemudian bersegera gugur. Usianya sangat pendek, tidak akan sampai menyaingi usia kita di sana.

Tetapi kemudian kita bertemu lagi di tempat yang kita sebut kehidupan. Hanya saja situasi yang ada sangat berbeda. Kita masih seusia, tetapi tidak bisa dikatakan sebagai seorang yang dewasa. Bicara saja kita masih tidak tertata rapi. Ke sana kemari, khas bahasa anak-anak. Semua sangat berbeda dengan apa yang pernah kita lalui bersama di satuan waktu yang lampau. Sebelum kita berdua tertiupkan ke alam ini.

NAFASKU terpatah-patah. Aku merasa sangat lelah. Seperti seorang perempuan renta yang sedang menunggu masa tutup usia. Berjalan hanya dalam khayal yang sesungguhnya kedua kaki tak pernah melangkah kemana pun. Tapi aku memang belum tua. Meski juga tak bisa berlari-lari. Aku hanya terus berbaring dan berbaring. Sejak kepergian ayahku ke surga. Mataku masih menampung sekian banyak buliran bening yang belum mendapat giliran untuk tumpah. Aku terlanjur tertidur. Dan kini, aku bermimpi.

Ayahku berdiri dalam nuansa yang begitu lembut namun terkesan asing bagiku. Aku mencoba memanggilnya, tetapi suaraku tersumbat di tenggorokanku yang kering. Sudah lama sekali aku tidak minum air lewat mulutku. Hanya selang infus itu yang terus menembus tangan kananku selama ini. Ayahku begitu sunyi, seolah tak melihat kehadiranku di sini. Barangkali debur rindu di dadaku yang membuncah tak cukup keras untuk menjadi tanda keinginanku bertemu dengannya?

Aku melihat lagi gambaran ketika ayahku meninggalkanku dan ibuku. "Ayah harus ke luar negeri," kata ibuku padaku suatu malam.

"Untuk apa?" tanyaku.
"Untuk bekerja," sahut ayahku. "Ayah janji tidak akan pergi lama. Kau bisa menandai hari dengan terus mencoreti setiap penanggalan di kalender meja kerja ayah. Setiap hari. Dan tanpa kau sadari, ayah sudah akan kembali di sini."

Aku memasang wajah tak percaya, "Ayah janji?"
Ayahku mengangguk mantap. Ibuku tersenyum melihat tingkahku. Dan aku mengantarkannya ke bandara dengan berat hati.

Selanjutnya, aku disibukkan dengan mencoreti kalender milik ayahku. Tetapi ayahku pergi begitu lama. Sampai aku kelelahan menunggu dan mulai malas mencoreti kalender seperti yang pernah diminta ayah. Aku mulai menangis dan marah pada ibuku, juga semua orang. Tubuhku melemah karena aku selalu menolak makanan bahkan minuman. Aku enggan bicara, termasuk pada teman sepermainanku, Ramadhani. Sampai suatu hari ibuku mengatakan kalau ayahku tidak akan pulang lagi. "Ayah sudah terbang ke surga," katanya.

Sejak itu aku sangat membenci angka-angka. Aku benci penanggalan dan tidak mau melihat kalender terpajang di rumah. Aku benci menghitung sesuatu. Aku juga mulai suka melukai diriku sendiri. Hingga akhirnya aku jatuh sakit dan harus terbaring di rumah sakit yang bagiku baunya sangat tidak enak.

Bayangan ayahku dan nuansa lembut itu perlahan-lahan memudar. Aku mencari-cari dan menajamkan pandanganku, tetapi percuma. Di hadapanku, suasana berganti menjadi demikian putih dan rapat oleh kabut tebal yang mengeluarkan hawa dingin. Satu sosok laki-laki dewasa tampak berjalan menembus kabut menuju padaku. Tubuhnya jauh lebih tinggi dariku. Dia tersenyum dan menggandeng tanganku. Kulit tangannya terasa begitu halus di telapakku.

Sambil mengajakku untuk duduk, laki-laki itu bercerita tentang langit dan menyebut-nyebut surga. Aku teringat pada ayahku dan bertanya kepada laki-laki di sebelahku, "Apa ayahku ada di sana?"

"Benar," jawabnya.
"Di mana?"
"Di langit ke tujuh."
"Apa kita bisa ke sana?" tanyaku tak sabar.
"Kelak kita akan ke sana. Tapi, ada syaratnya."
"Apa syaratnya?" sahutku semangat.
"Kau terlebih dulu harus bisa menghitung jumlah langit itu. Kalau tidak, kau tidak akan bisa sampai ke tempat ayahmu. Karena kau akan tersesat."

"Kalau begitu lupakan! Aku tidak mau menghitung. Aku benci angka-angka!" aku berteriak.
"Di langit, kau juga bisa menghitung bintang-bintang."
"Aku tidak mau menghitung langit atau apa pun."
"Percayalah, kau akan menyukainya."
"Untuk apa aku menghitung bintang-bintang?"
"Mungkin di sana ayahmu juga sedang menghitung bintang-bintang."
"Benarkah?"

Laki-laki itu mengangguk. Aku memeluknya tanpa ragu-ragu. Suasana begitu hening mengurung kami berdua. Aku menyandarkan kepalaku ke dada laki-laki itu. Tidak ada suara apa pun di tempat ini, kecuali detak jantungku sendiri. Degup yang sudah cukup lama ini terasa sangat lemah. Aku menikmati detak jantungku yang menjelma nada indah tersendiri bagiku.

"Apa kita bisa menghitung suara ini?" kataku menunjuk bunyi jantungku.
"Ya, tentu. Hitunglah. Akan sangat menyenangkan kalau kita menghitung sesuatu yang kita sukai."
"Apa suara ini akan selalu berbunyi selamanya?"
"Tidak. Dia akan berhenti, kalau kau sudah mati."
"Mati? Pergi ke surga, seperti ayahku? Begitukah?"
"Ya."
"Kalau aku mati, apa aku bisa bertemu ayahku?"
"Tentu saja."
"Aku ingin sekali suara ini berhenti berbunyi," kataku pelan.
"Ibumu akan bersedih jika kau meninggalkannya," jawab laki-laki itu.

"Jangan beritahu ibuku kalau aku mati. Berjanjilah untuk diam. Seperti yang dilakukan ibu padaku dulu, ketika ayah meninggalkan kami."
"Bagaimana dengan temanmu, Ramadhani?"

Aku terhenyak. Ramadhani? Ah, aku melupakannya. Apa aku tega meninggalkannya begitu saja? Tapi…bukankah aku sudah mengatakan hal ini kepadanya dulu, di satuan waktu yang lain? Tentu dia akan mengerti.
Aku baru saja akan mengatakan pada laki-laki itu bahwa Ramadhani akan baik-baik saja jika harus kutinggalkan, tetapi dia telah lenyap dari pandanganku. Aku tidak lagi berada dalam pelukannya. Suasana yang putih berkabut kini berganti dengan taman yang sangat indah dan penuh bunga. Aroma wangi dari kelopak-kelopak yang bermekaran memenuhi tempat yang belum pernah sekalipun kutemui ini.
Saat itu, di kejauhan, aku kembali melihat sosok ayahku berdiri sendiri. Kali ini dia menatap ke arahku dan tersenyum. Aku membalas senyumannya dengan berjalan menujunya. Tetapi pandanganku mendadak mengabur. Aku berjalan terus sampai semuanya semakin tak terlihat olehku. Aku menghentikan langkahku dengan rasa kecewa.
Aku teringat pada teman kecilku. Ramadhani, kalau setelah ini aku harus pergi, maka semua yang kulihat barusan akan menjadi satu mimpi terindah sebelum matiku. Kataku dalam hati.

AKU lihat kau duduk di samping pembaringanku. Matamu teduh tetapi berkaca-kaca. Ruangan rumah sakit ini lebih tampak seperti kamar mayat. Dingin, sepi, dan jiwa-jiwa yang beku. Aku masih tertidur. Sesekali berteriak menyapamu, tetapi kau tak mendengarku. Mimpi yang kulihat masih tersisa dengan kaburnya. Kau takkan percaya, Ramadhani, aku bertemu ayahku dalam mimpiku.

Aku teringat dunia yang lain. Waktu kau, Ramadhani, menciumi bibirku ketika aku bicara tentang mati. Tapi kini kau tampak sedikit berbeda. Wajahmu terlihat sangat ketakutan seolah sedang menonton opera kematian. Dan, ah, Ramadhani, lihat! Ayahku datang lagi. Mimpiku jelas kembali. Dengan cepat aku menenggelamkan diri di gambaran mimpiku.

Di belakangku, ayahku merentangkan tangannya untukku. Dadaku penuh rasa rindu yang tak tertawar lagi. Dan…di arah yang berlawanan, "Hei, itu kau, Ramadhani. Kau juga di sini?" tanyaku. Tapi kau diam. Kaku. Tak lama kemudian kau memanggil namaku dengan sangat pelan. Nyaris tak terdengar olehku. Sebenarnya kau mau aku datang padamu atau tidak?

Aku tak bisa memilih. Antara ayahku dan kau, dalam mimpiku. Napasku sudah total terengah-engah. Ini melelahkan, Ramadhani. Tetapi juga menyenangkan. Pengalaman unik yang tak bisa sembarangan diceritakan. Aku yakin sekali ini jauh lebih menarik daripada menghitung langit atau bintang.

Kemudian semua terpastikan. Seseorang di atas kepalaku, menarik sesuatu dari tubuhku. Ada yang terlepas dengan begitu lekas. Sangat cepat, tetapi sempat membuatku tercekat.

Aku lupa semua mimpiku. Tiba-tiba ayahku sudah memelukku dengan eratnya. Sementara kau menangis di pelukan ibuku, di ujung pembaringanku. Dokter mencabut selang infusku. Aku berteriak untukmu, "Aku akan merindukan ciumanmu, Ramadhani." Tapi lagi-lagi kau tak dapat mendengarku, melainkan hanya terus menangis. ***

Sidoarjo-Yogyakarta, 2004-2005