Sunday, December 14, 2008

SURAT DARI SETAN UNTUK MU

Berhati- hatilah saat membacanya, kemudian ambil sebagai pelajaran dan hindari godaan syetan. Ada baiknya kamu semua sebarin surat ini ke semua teman- teman kamu. Semoga bisa menyadarkan kita. Jangan hiraukan perintahnya untuk tidak menyebarkan surat ini....!


Aku melihatmu kemarin, saat engkau memulai aktifitas harianmu.
Kau bangun tanpa sujud mengerjakan subuhmu
Bahkan kemudian, kau juga tidak mengucapkan "Bismillah" sebelum memulai santapanmu, juga tidak sempat mengerjakan shalat Isha sebelum berangkat ketempat tidurmu
Kau benar2 orang yang bersyukur, Aku menyukainya
Aku tak dapat mengungkapkan betapa senangnya aku melihatmu tidak merubah cara hidupmu.
Hai Bodoh, Kamu millikku.
Ingat, kau dan aku sudah bertahun-tahun bersama,
dan aku masih belum bisa benar2 mencintaimu .
Malah aku masih membencimu, karena aku benci Allah.
Aku hanya menggunakanmu untuk membalas dendamku kepada Allah.
Dia sudah mencampakkan aku dari surga, dan aku akan tetap memanfaatkanmu sepanjang masa untuk mebalaskannya

Kau lihat, ALLAH MENYAYANGIMU dan dia masih memiliki rencana-rencana untukmu dihari depan.
Tapi kau sudah menyerahkan hidupmu padaku,
dan aku akan membuat kehidupanmu seperti neraka.
Sehingga kita bisa bersama dua kali dan ini akan menyakiti hati ALLAH

Aku benar-benar berterimakasih padamu, karena aku sudah menunjukkan kepada NYA siapa yang menjadi pengatur dalam hidupmu dalam masa2 yang kita jalani

Kita nonton film porno bersama, memaki orang, mencuri, berbohong, munafik, makan sekenyang-kenyangya , guyon2an jorok, bergosip, manghakimi orang, menghujam orang dari belakang, tidak hormat pada orang tua ,
Tidak menghargai Masjid, berperilaku buruk.
TENTUNYA kau tak ingin meninggalkan ini begitu saja.
Ayolah, Hai Bodoh, kita terbakar bersama, selamanya.
Aku masih memiliki rencana2 hangat untuk kita.
Ini hanya merupakan surat penghargaanku untuk mu.
Aku ingin mengucapkan 'TERIMAKASIH' karena sudah mengizinkanku memanfaatkan hampir semua masa hidupmu.
Kamu memang sangat mudah dibodohi, aku menertawakanmu.
Saat kau tergoda berbuat dosa kamu menghadiahkan tawa.
Dosa sudah mulai mewarnai hidupmu.
Kamu sudah 20 tahun lebih tua, dan sekarang aku perlu darah muda.
Jadi, pergi dan lanjutkanlah mengajarkan orang-orang muda bagaimana berbuat dosa.
Yang perlu kau lakukan adalah merokok, mabuk-mabukan, berbohong, berjudi, bergosip, dan hiduplah se-egois mungkin.
Lakukan semua ini didepan anak-anak dan mereka akan menirunya.
Begitulah anak-anak .
Baiklah, aku persilahkan kau bergerak sekarang.
Aku akan kembali beberapa detik lagi untuk menggoda mu lagi.
Jika kau cukup cerdas, kau akan lari sembunyi, dan bertaubat atas dosa-dosamu.
Dan hidup untuk Allah dengan sisa umurmu yang tinggal sedikit.
Memperingati orang bukan tabiatku, tapi diusiamu sekarang dan tetap melakukan dosa, sepertinya memang agak aneh.
Jangan salah sangka, aku masih tetap membencimu.
Hanya saja kau harus menjadi orng tolol yang lebih baik dimata ALLAH.

Catatan
: Jika kau benar2 menyayangiku , kau tak akan membagi surat ini dengan siapapun

Tuesday, December 2, 2008

Tanda-tanda Kehancuran Masyarakat Barat

Dr. Daud Rasyid, MA

Mereka hidup tanpa nilai. Tidak ada yang mereka tunggu kecuali kehancuran dan kepunahan.


Firman Allah Azza wajalla:

ومن أعرض عن ذكري فإن له معيشة ضنكا ونحشره يوم القيامة أعمى

“Dan barangsiapa yang berpaling dari mengingatKu, maka sungguh baginya kehidupan yang sempit dan Kami bangkitkan dia pada hari Kiamat dalam keadaan buta.” (Thaha 124)

Siapa saja yang mengamati kehidupan masyarakat Barat, apalagi mereka yang tinggal lama di sana dan tidak larut dalam kehidupan Barat, akan mengetahui bahwa masyarakat tersebut sedang mengalami krisis kemanusiaan yang berkepanjangan.

Mereka tengah berjalan menuju arah keruntuhan dan kehilangan fondasi kemanusiaan. Itu disebabkan karena mereka tenggelam dalam arus materialisme sebagai Tuhan baru di dunia Barat. Nilai-nilai Robbani tercabut dari hati manusia yang tidak hidup di atas hidayah. Mereka akhirnya hidup dalam kegelapan yang mencekam. Berjalan sebisanya, kadang membentur ke kanan dan ke kiri. Persis seperti manusia mabuk dan sempoyongan.

Berikut ini beberapa fenomena kehancuran kehidupan masyarakat Barat yang penting dicermati:

Anjing sahabat setia

Sudah menjadi kultur masyarakat Barat, akrab dengan hewan yang namanya anjing. Berbagai jenis anjing mereka pelihara sesuai dengan selera masing-masing. Sepintas lalu, orang terkagum-kagum pada masyarakat Barat dalam soal yang satu ini. Mereka menilai bahwa ini merupakan kemajuan masyarakat Barat yang sayang kepada hewan.

Sesungguhnya, penilaian seperti ini muncul karena tidak menelusuri jalan hidup mereka dengan dunia yang serba gemerlap dengan materialisme. Keterikatan mereka pada anjing sudah sedemikian rupa sampai-sampai ada yang mengatakan bahwa 'No life without dog' (tak ada kehidupan tanpa anjing). Padahal untuk memelihara anjing di sana, memerlukan biaya yang tak sedikit. Daging yang dikonsumsi anjing mereka lebih mahal dari daging yang dimakan manusia.

Jika kita amati lebih mendalam, kita akan dapati bahwa keakraban mereka dengan anjing adalah salah satu malapetaka kemanusiaan yang dialami insan Eropa, dimana mereka sudah tak percaya lagi bersahabat dengan manusia. Bahkan tidak percaya pada anak sendiri.

Mereka merasa lebih percaya kepada anjing daripada manusia. Mereka lebih mau memelihara anjing dan hidup bersama anjing daripada hidup serumah dengan anak atau suami. Jadi memelihara anjing adalah pelarian alias frustrasi pada manusia.

Kenapa? Karena dari pengalaman hidupnya, mereka merasakan hidup bersama dengan manusia, hanya menimbulkan banyak persoalan yang tidak sederhana, baik dengan pasangan hidup maupun anak keturunan sendiri. Yang didapat bukan ketenangan, justru kesengsaraan. Inilah krisis kemanusiaan di Barat.

Berapa banyak orang-orang berusia tua tinggal bersama anjingnya di rumah. Anjing itu betul-betul menjadi teman hidup. Bahkan dibawa tidur bersama. Ini karena kultur di Barat, anak-anak yang sudah besar tidak mau tinggal bersama orang tuanya. Orangtua tinggal sendiri di rumahnya. Anak-anaknya tinggal terpisah dengan keluarganya sendiri, di luar kota atau dalam satu kota.

Penulis sering sekali menjumpai nenek (kira-kira di atas 70 tahun) yang berjalan naik kereta sendirian berkunjung ke rumah anaknya yang tinggal di kota lain. Akibat kesepian seperti ini, orang yang sudah berusia lanjut merasa sedih dan kesepian tinggal sendirian.

Secara materi, orang-orang tua yang sudah tidak bekerja lagi memang mendapatkan santunan (benefit) dari negara yang cukup untuk keperluan hidupnya. Tetapi, ada aspek lain dari hidupnya yang tak terpenuhi, yaitu kejiwaan dan ruhiyahnya.

Sesungguhnya, batin mereka berontak. Hati mereka merindukan hidup dengan anak dan cucunya. Namun itu tak mungkin terjadi dalam kultur mereka. Inilah yang menyebabkan pelarian kerinduan kepada binatang seperti anjing.

Kenapa harus anjing? Itu juga pertanyaan menarik. Karena hewan ini memang memiliki unsur kesetiakawanan yang baik dengan tuannya. Jadi, si nenek tadi mencurahkan kasih sayangnya kepada anjing, karena ia tidak dapat mencurahkannya kepada manusia, sekalipun itu anak atau cucunya sendiri.

Ada yang lebih parah dari itu, anak menitipkan orangtuanya di Panti jompo, bersama orang-orang tua lanjut usia lainnya. Panti ini dibayar dan di sana ada pegawai yang bekerja melayani dan menjaga mereka. Kalau di antara mereka ada yang mau ke toilet, ada yang menuntun. Kalau mau mandi, ada yang memandikan. Kalau ingin sesuatu, ada yang melayaninya. Tetapi apakah dengan begini, batin mereka terpuaskan? Tidak. Jelas tidak.

Program di Panti itu, ialah senam dan musik yang sesungguhnya bukan membantu menenangkan jiwa, tetapi justru menambah keruh pikiran mereka. Apa yang mereka butuhkan, tidak sesuai dengan apa yang mereka dapatkan. Kadang pikiran kita bertanya-tanya, kenapa begitu teganya seorang anak menitipkan orangtuanya di Panti jompo? Apakah ia tidak merasa bahwa orang tua seperti itu membutuhkan kasih sayang anak?

Sekedar kelakar, tapi ini bisa juga merupakan hakikat sebenarnya, bahwa dulu waktu si ibu masih muda, ia punya anak atau bayi yang masih kecil. Ia titipkan buah hati dan kesayangannya ke penitipan anak. Saat anak masih bayi sedang merindukan kasih sayang ibu, tetapi karena tuntutan dunia dan mengejar materi, sang ibu tega meninggalkan anaknya di penitipan.

Apa yang terjadi setelah waktu berlalu puluhan tahun? Maka pada saat si ibu sudah tua renta, giliran ia dititipkan oleh anaknya di Panti Jompo. Jadi impas (seri), bukan? Na'zu billah min zalik. Sesuatu yang harusnya tidak boleh terjadi, jika manusia berada di atas jalan Hidayah.

Rasul Saw pernah bersabda :

من لا يرحم لا يرحم

Barangsiapa yang tidak mengasihani, ia tidak dikasihani.

Dan sabda Beliau Saw:

ارحموا من في الأرض يرحمكم من في السماء

“Sayangilah orang yang ada di bumi, niscaya kamu disayangi oleh yang ada di langit”.

Membalas kasih orang tua

Firman Allah Subhanah wata’ala:

وقضى ربك ألا تعبدوا إلا إياه وبالوالدين إحسانا إما يبلغن عندك الكبر أحدهما أو كلاهما فلا تقل لهما أف ولا تنهرهما وقل لهما قولا كريما.

“Dan Robbmu telah menetapkan agar kamu tidak menyembah kecuali hanya Dia, dan kepada dua orangtuamu berbuat baiklah. Jika salah seorang dari mereka sudah lanjut usia atau kedua-duanya, maka janganlah engkau katakan padanya ‘Ah’, dan jangan bersuara keras kepada mereka, dan ucapkanlah perkataan yang mulia.” (Al-Isra’:23)

Berbeda total dengan pandangan hidup Barat, Islam menanamkan rasa kasih sayang kepada anak sejak ia masih kecil. Ibu mencurahkan kasih sayangnya kepada bayinya, dengan menyusui, mengurus dan membesarkan. Waktu si Ibu memang dihabiskan untuk mengurus anaknya. Bahkan penderitaan sudah dirasakan ibu sejak janin dalam kandungan.

Firman Allah Swt.

حملته أمه وهنا على وهن وفصاله في عامين.

(ia dikandung oleh ibunya dalam penderitaan demi penderitaan, dan memisahnya dalam usia dua tahun).

Ketika si ibu sudah tua, maka anaknya yang sudah dewasa gantian ingin membalas jasa si ibu. Giliran Ibunya diurus oleh si anak. Ibu tinggal menumpang di rumah anaknya, hidup bersama cucu-cucunya. Ketawa dan gembira bersama mereka.

Bila sakit, ia dirawat oleh anaknya. Ketika terasa jenuh di rumah anak yang satu, ia pindah ke anak yang lain. Ia diperlakukan sama oleh anak dan cucunya yang lain. Ia disambut, dilayani dan diurus oleh anak dan cucunya.

Mereka bersama-sama menghambakan dirinya kepada Allah Swt. Betapa indahnya hidup di bawah naungan ajaran Islam. Andaikan orang di luar Islam mengetahuinya, niscaya mereka akan cemburu pada ajaran mulia ini.

Manusia diciptakan Allah sebagai makhluk mulia, seharusnya menjadi sahabat dan teman untuk menjalankan hidup sesama komunitas manusia, saling membantu, menolong, saling bertukar pikiran, bahkan saling menunjang untuk mencapai tujuan hidup mengabdi kepada Allah Robbul alamin.

Manusia seharusnya mencari temannya sesama manusia, bukan saling menjauhi.

Di masyarakat barat, anjing diperlakukan seperti manusia, layaknya teman, diajak bicara, diperintah, dititipi pesan, dan seterusnya. Mereka mengasuhnya seperti mengasuh anak, dimandikan, dikasih makanan. Bahkan, daging yang dimakan anjing, tidak sembarangan. Ada standar khusus, harganya lebih mahal dari harga daging biasa yang dikonsumsi manusia.

Anjing harus dibawa berjalan keluar rumah sampai 3 kali sehari. Jika tidak, ia mengalami stress. Anjing dimandikan, dibawa tidur, mendampingi tuannya terus menerus, hingga dibawa piknik, naik mobil, kereta, dan tiketnya dibelikan khusus, dihitung sebagai penumpang.

Ini semua merupakan fenomena kehancuran kemanusiaan di Barat. Manusia tidak percaya lagi kepada anaknya, dia lebih suka membesarkan dan merawat anjing dari merawat anaknya. Ini juga merupakan bukti bahwa manusia membutuhkan makhluk yang hidup bersama dengannya. Ketika makhluk itu tidak didapatkan dari jenis manusia, anjing pun tak mengapa sebagai penggantinya. La hawla wala quwwata illa billah.

Gereja kosong

Fenomena lain yang tak kalah mengherankan di barat ialah kosongnya tempat ibadah (gereja). Gereja hanya dikunjungi untuk tiga acara, pertama kelahiran anak, kedua ketika seseorang menikah, dan yang terakhir, ketika ada yang meninggal. Selain itu mereka tidak lagi datang ke gereja.

Gereja mirip museum, tempat peninggalan benda-benda tua bersejarah. Yang datang ke gereja, jikapun ada, hanyalah kakek-kakek dan nenek-nenek tua bertongkat dan jalan terpapah-papah.

Ini menunjukkan insan barat sudah meninggalkan agamanya secara massal. Jika kalangan mudanya ditanya, “What is your religion?” (apakah agama Anda?). Mereka menjawab : 'football’ (bola kaki).

Mereka meninggalkan gereja, karena agamanya dirasakan tidak memberi kepuasan bagi hidup mereka dan tidak lagi mereka butuhkan. Hal itu seiring dengan arus materialisme yang semakin deras di barat, arus hedonisme yang makin kencang.

Manusia disibukkan dengan kegiatan mengejar uang dan memburu materi untuk kesenangan hidup atau untuk memenuhi kebutuhan hidup. Semakin banyak tuntutan hidup yang dibutuhkan, semakin menuntut kerja keras untuk membayar kebutuhan itu. Mulai dari sewa rumah yang sangat tinggi, misalnya di London, kawasan pinggiran saja besarnya sewa rumah sekitar £1000 sebulan.

Begitu pun dengan kebutuhan transport, makanan, pakaian, perhiasan, pendidikan, piknik, dst, menyebabkan manusia harus habis-habisan berjuang mendapatkan pembayar kebutuhan hidup itu.

Lain lagi kesenangan syahwat dan hawa nafsu yang semakin menyebabkan mereka meninggalkan agamanya. Karena mahalnya living cost di negara-negara barat, sehingga mendorong mereka untuk hidup dengan pasangannya tanpa ikatan pernikahan.

Menurut mereka, nikah mememunculkan tuntutan-tuntutan dan kewajiban. Sementara, mereka tidak ingin diikat dengan kewajiban, namun hawa nafsunya terlampiaskan dengan lawan jenis yang berpandangan serupa. Akhirnya mereka menemukan pasangan hidup yang sejalan dengan pola pikirnya, lalu merekapun hidup serumah tanpa ikatan pernikahan. Saling memuaskan dan tidak saling memberatkan.

Kekeluargaan yang rapuh

Sungguh memilukan, ikatan kekeluargaan di barat sangat rapuh. Perceraian gampang terjadi. Salah satu yang mendorong mereka untuk hidup kumpul kebo, adalah rapuhnya kehidupan berumah tangga. Jika terjadi perselisihan di antara satu pasangan lelaki dan perempuan, maka mereka dengan mudah saja bubar. Lelaki pergi ke utara dan perempuannya ke selatan. Tinggal angkat koper saja.

Adapun jika mereka menikah secara resmi dengan perjanjian yang disahkan oleh negara, maka ketika terjadi perpecahan, harta yang mereka cari akan dibagi dua, seperti rumah, kendaraan dan lain sebagainya. Urusannya juga tak gampang, berhubungan dengan pengadilan dan seterusnya.

Bahkan mereka yang resmi menikahpun, sering melakukan perjanjian tertulis, tentang jumlah anak yang disepakati. Bahkan, ada juga yang sama-sama berjanji untuk tidak punya anak. Jadi secara umum, kultur masyarakat barat masa sekarang ini cenderung tidak menginginkan anak. Kalaupun mau, sangat mereka batasi, cukup satu atau maksimal dua.

Pikiran mereka ini didasarkan pada ideologi pragmatis dan individualis. Dengan punya anak, seseorang akan merasa direpotkan. Mulai anak itu dalam kandungan, ketika lahir, kemudian membesarkannya, menyekolahkannya, sampai anak tersebut beranjak dewasa.

Mereka menganggap kehidupan seperti itu sungguh merepotkan. Sementara mereka tidak mau repot. Merasa enjoy hidup sendiri. Memasak untuk sendiri, bekerja untuk dinikmati sendiri, lapar tanggung sendiri. Kalaupun mereka punya pasangan, pasangan itupun memiliki visi serupa juga.

Demikianlah mereka hidup. Bandingkan dengan Islam yang memandang pernikahan sebagai sarana meraih ketenangan, damai dan kemesraan. Firman Allah Swt:

ومن آياته أن خلق لكم من أنفسكم أزواجا لتسكنوا إليها وجعل بينكم مودة ورحمة إن في ذلك لآيات لقوم يتفكرون.

“Di antara tanda-tanda kebesaranNya, Ia menjadikan untuk kamu dari dirimu pasangan agar kamu mendapatkan ketenangan darinya. Dan Ia menjadikan di antara kamu kasih sayang dan belas kasihan. Sesunggunya dalam demikian itu terdapat ayat bagi kaum yang berpikir.” (Ar-Ruum: 21)

Lalu pada masa yang akan datang, akan tiba waktunya kepunahan populasi orang Eropa. Sebab mereka yang hidup sekarang, tidak diteruskan oleh generasi penggantinya. Alhamdulillah, alladzi hadana ilal Islaam. (Segala puji bagi Allah yang menunjuki kita hidup di dalam Islam).


(taken from eramuslim)

Wednesday, November 26, 2008

Motivasi

What I've Learnt Today ?
www.iLuvislam.com
masleeha
editor : kasihsayang


I've learned that no matter what happens, or how bad it seems today, life does go on, and it will be better tomorrow."

"I've learned that regardless of your relationship with your parents, you'll miss them when they're gone from your life." "I've learned that making a 'living' is not the same thing as 'making a life'."

"I've learned that life sometimes gives you a second chance."

"I've learned that you shouldn't go through life with a catcher's mitt on both hands; you need to be able to throw some things back."

"I've learned that whenever I decide something with an open heart, I usually make the right decision."

"I've learned that even when I have pains, I don't have to be one." "I've learned that every day you should reach out and touch someone."

"People love a warm hug, or just a friendly pat on the back."


"I've learned that I still have a lot to learn." "I've learned that people will forget what you said, people will forget what you did, but people will never forget how you made them feel."

APPRECIATE THINGS AROUND YOU...THERE'S A REASON WHY ALLAH DID THAT. ^_^

Abi Aku Mohon Maaf....!

Hati Mukmin Pasti Menangis
www.iluvislam.com
dihantar oleh: ArWa
Editor: deynarashid


Suatu petang, di Tahun 1525. Penjara tempat tahanan orang-orang di situ terasa hening mencengkam. Jeneral Adolf Roberto, pemimpin penjara yang terkenal bengis, tengah memeriksa setiap kamar tahanan. Setiap banduan penjara membongkokkan badannya rendah-rendah ketika ‘algojo penjara’ itu melintasi di hadapan mereka. Kerana kalau tidak, sepatu ‘boot keras’ milik tuan Roberto yang fanatik Kristian itu akan mendarat di wajah mereka.

Roberto marah besar ketika dari sebuah kamar tahanan terdengar seseorang mengumandangkan suara-suara yang amat ia benci.

“Hai… hentikan suara jelekmu! Hentikan… !” Teriak Roberto sekeras-kerasnya sambil membelalakkan mata.

Namun apa yang terjadi? Laki-laki dikamar tahanan tadi tetap saja bersenandung dengan khusyu’nya. Roberto bertambah berang. Algojo penjara itu menghampiri kamar tahanan yang luasnya tak lebih sekadar cukup untuk satu orang. Dengan marah ia menyemburkan ludahnya ke wajah tua sang tahanan yang keriput hanya tinggal tulang. Tak puas sampai di situ, ia lalu menyucuh wajah dan seluruh badan orang tua renta itu dengan rokoknya yang menyala. Sungguh ajaib… Tak terdengar secuil pun keluh kesakitan.

Bibir yang pucat kering milik sang tahanan amat galak untuk meneriakkan kata Rabbi, wa ana ‘abduka… Tahanan lain yang menyaksikan kebiadaban itu serentak bertakbir sambil berkata, “Bersabarlah wahai ustaz… InsyaALlah tempatmu di Syurga.”

Melihat kegigihan orang tua yang dipanggil ustaz oleh sesama tahanan, ‘algojo penjara’ itu bertambah memuncak marahnya. Ia memerintahkan pegawai penjara untuk membuka sel, dan ditariknya tubuh orang tua itu keras-kerasnya sehingga terjerembab di lantai.

“Hai orang tua busuk! Bukankah engkau tahu, aku tidak suka bahasa hinamu itu?! Aku tidak suka apa-apa yang berhubung dengan agamamu! Ketahuilah orang tua dungu, bumi Sepanyol ini kini telah berada dalam kekuasaan bapa kami, Tuhan Jesus. Anda telah membuat aku benci dan geram dengan ’suara-suara’ yang seharusnya tidak didengari lagi di sini. Sebagai balasannya engkau akan kubunuh. Kecuali, kalau engkau mahu minta maaf dan masuk agama kami.”

Mendengar “khutbah” itu orang tua itu mendongakkan kepala, menatap Roberto dengan tatapan yang tajam dan dingin. Ia lalu berucap, “Sungguh… aku sangat merindukan kematian, agar aku segera dapat menjumpai kekasihku yang amat kucintai, Allah. Bila kini aku berada di puncak kebahagiaan karena akan segera menemuiNya, patutkah aku berlutut kepadamu, hai manusia busuk? Jika aku turuti kemahuanmu, tentu aku termasuk manusia yang amat bodoh.”

Sejurus sahaja kata-kata itu terhenti, sepatu lars Roberto sudah mendarat di wajahnya. Laki-laki itu terhuyung. Kemudian jatuh terkapar di lantai penjara dengan wajah berlumuran darah. Ketika itulah dari saku baju penjaranya yang telah lusuh, meluncur sebuah ‘buku kecil’. Adolf Roberto berusaha memungutnya. Namun tangan sang Ustaz telah terlebih dahulu mengambil dan menggenggamnya erat-erat.

“Berikan buku itu, hai laki-laki dungu!” bentak Roberto.

“Haram bagi tanganmu yang kafir dan berlumuran dosa untuk menyentuh barang suci ini!” ucap sang ustaz dengan tatapan menghina pada Roberto.

Tak ada jalan lain, akhirnya Roberto mengambil jalan paksa untuk mendapatkan buku itu. Sepatu lars seberat dua kilogram itu ia gunakan untuk menginjak jari-jari tangan sang ustaz yang telah lemah. Suara gemeretak tulang yang patah terdengar menggetarkan hati. Namun tidak demikian bagi Roberto. Laki-laki bengis itu malah merasa bangga mendengar gemeretak tulang yang terputus. Bahkan ‘algojo penjara’ itu merasa lebih puas lagi ketika melihat tetesan darah mengalir dari jari-jari musuhnya yang telah hancur. Setelah tangan tua itu tak berdaya, Roberto memungut buku kecil yang membuatnya baran. Perlahan Roberto membuka sampul buku yang telah lusuh. Mendadak algojo itu termenung.

“Ah… seperti aku pernah mengenal buku ini. Tetapi bila? Ya, aku pernah mengenal buku ini.”

Suara hati Roberto bertanya-tanya. Perlahan Roberto membuka lembaran pertama itu. Pemuda berumur tiga puluh tahun itu bertambah terkejut tatkala melihat tulisan-tulisan “aneh” dalam buku itu. Rasanya ia pernah mengenal tulisan seperti itu dahulu. Namun, sekarang tak pernah dilihatnya di bumi Sepanyol.

Akhirnya Roberto duduk di samping sang ustaz yang sedang melepaskan nafas-nafas terakhirnya. Wajah bengis sang algojo kini diliputi tanda tanya yang dalam. Mata Roberto rapat terpejam. Ia berusaha keras mengingat peristiwa yang dialaminya sewaktu masih kanak-kanak. Perlahan, sketsa masa lalu itu tergambar kembali dalam ingatan Roberto.

Pemuda itu teringat ketika suatu petang di masa kanak-kanaknya terjadi kekecohan besar di negeri tempat kelahirannya ini. Petang itu ia melihat peristiwa yang mengerikan di lapangan Inkuisisi (lapangan tempat pembantaian kaum muslimin di Andalusia). Di tempat itu tengah berlangsung pesta darah dan nyawa. Beribu-ribu jiwa tak berdosa gugur di bumi Andalusia. Di hujung kiri lapangan, beberapa puluh wanita berhijab (jilbab) digantung pada tiang-tiang besi yang terpancang tinggi. Tubuh mereka gelantungan tertiup angin petang yang kencang, membuat pakaian muslimah yang dikenakan berkibar-kibar di udara.

Sementara, di tengah lapangan ratusan pemuda Islam dibakar hidup-hidup pada tiang-tiang salib, hanya karena tidak mahu memasuki agama yang dibawa oleh para rahib. Seorang kanak- kanak laki-laki comel dan tampan, berumur sekitar tujuh tahun, malam itu masih berdiri tegak di lapangan Inkuisisi yang telah senyap. Korban-korban kebiadaban itu telah syahid semua. Kanak kanak comel itu melimpahkan airmatanya menatap sang ibu yang terkulai lemah di tiang gantungan. Perlahan-lahan kanak - kanak itu mendekati tubuh sang ummi yang tak sudah bernyawa, sambil menggayuti abinya.

Sang anak itu berkata dengan suara parau, “Ummi, ummi, mari kita pulang. Hari telah malam. Bukankah ummi telah berjanji malam ini akan mengajariku lagi tentang alif, ba, ta, tsa… .? Ummi, cepat pulang ke rumah ummi… “

Budak kecil itu akhirnya menangis keras, ketika sang ummi tak jua menjawab ucapannya. Ia semakin bingung dan takut, tak tahu apa yang harus dibuat . Untuk pulang ke rumah pun ia tak tahu arah. Akhirnya budak itu berteriak memanggil bapaknya, “Abi… Abi… Abi… “ Namun ia segera terhenti berteriak memanggil sang bapa ketika teringat petang kelmarin bapanya diseret dari rumah oleh beberapa orang berseragam.

“Hai… siapa kamu?!” jerit segerombolan orang yang tiba-tiba mendekati budak tersebut. “Saya Ahmad Izzah, sedang menunggu Ummi… “ jawabnya memohon belas kasih.

“Hah… siapa namamu budak, cuba ulangi!” bentak salah seorang dari mereka. “Saya Ahmad Izzah… “ dia kembali menjawab dengan agak kasar. Tiba-tiba, Plak! sebuah tamparan mendarat di pipi si kecil.

“Hai budak… ! Wajahmu cantik tapi namamu hodoh. Aku benci namamu. Sekarang kutukar namamu dengan nama yang lebih baik. Namamu sekarang ‘Adolf Roberto’… Awas! Jangan kau sebut lagi namamu yang buruk itu. Kalau kau sebut lagi nama lamamu itu, nanti akan kubunuh!” ancam laki-laki itu.

Budak itu mengigil ketakutan, sembari tetap menitiskan air mata. Dia hanya menurut ketika gerombolan itu membawanya keluar lapangan Inkuisisi. Akhirnya budak tampan itu hidup bersama mereka. Roberto sedar dari renungannya yang panjang. Pemuda itu melompat ke arah sang tahanan. Secepat kilat dirobeknya baju penjara yang melekat pada tubuh sang ustaz. Ia mencari-cari sesuatu di pusat laki-laki itu. Ketika ia menemukan sebuah ‘tanda hitam’ ia berteriak histeria, “Abi… Abi… Abi… “

Ia pun menangis keras, tak ubahnya seperti Ahmad Izzah dulu. Fikirannya terus bergelut dengan masa lalunya. Ia masih ingat betul, bahwa buku kecil yang ada di dalam genggamannya adalah Kitab Suci milik bapanya, yang dulu sering dibawa dan dibaca ayahnya ketika hendak menidurkannya. Ia jua ingat betul ayahnya mempunyai ‘tanda hitam’ pada bahagian pusat. Pemuda bengis itu terus meraung dan memeluk erat tubuh tua nan lemah. Tampak sekali ada penyesalan yang amat dalam atas tingkah-lakunya selama ini.

Lidahnya yang sudah berpuluh-puluh tahun lupa akan Islam, saat itu dengan spontan menyebut, “Abi… aku masih ingat alif, ba, ta, tha… “ Hanya sebatas kata itu yang masih terakam dalam benaknya. Sang ustaz segera membuka mata ketika merasakan ada tetesan hangat yang membasahi wajahnya. Dengan tatapan samar dia masih dapat melihat seseorang yang tadi menyeksanya habis-habisan kini sedang memeluknya.

“Tunjuki aku pada jalan yang telah engkau tempuhi Abi, tunjukkan aku pada jalan itu… ” Terdengar suara Roberto meminta belas. Sang ustaz tengah mengatur nafas untuk berkata-kata, lalu memejamkan matanya. Air matanya pun turut berlinang. Betapa tidak, jika setelah puluhan tahun, ternyata ia masih sempat berjumpa dengan buah hatinya, di tempat ini. Sungguh tak masuk akal. Ini semata-mata bukti kebesaran Allah.


Sang Abi dengan susah payah masih boleh berucap. “Anakku, pergilah engkau ke Mesir. Di sana banyak saudaramu. Katakan saja bahwa engkau kenal dengan Syaikh Abdullah Fattah Ismail Al-Andalusy. Belajarlah engkau di negeri itu,”

Setelah selesai berpesan sang ustaz menghembuskan nafas terakhir dengan berbekal kalimah indah “Asyahadu anla IllaahailALlah, wa asyahadu anna Muhammad Rasullullah… ‘.

Beliau pergi dengan menemui Rabbnya dengan tersenyum, setelah sekian lama berjuang dibumi yang fana ini. Kini Ahmah Izzah telah menjadi seorang alim di Mesir. Seluruh hidupnya dibaktikan untuk agamanya, Islam, sebagai ganti kekafiran yang di masa muda sempat disandangnya. Banyak pemuda Islam dari berbagai penjuru berguru dengannya…


Wednesday, August 13, 2008

Gaji Dua Kali Lipat

Suatu hari seorang bos besar dan terkenal disiplin dari sebuah perusahaan terkemuka datang mengontrol karyawannya tiba- tiba, semua karyawan dengan serta merta bekerja lebih giat dari biasanya ( entah apakah mereka takut dibilang malas atau karena ingin mencari perhatian si bos ) .

Ketika si bos ini turun dari lift dia mendapati seseorang sedang berdiri dengan malasnya sambil mengisap sebatang rokok didekat recepcionist. Tanpa bertanya siapa dia bos itu langsung menegur ;
" Kamu sudah menyelesaikan pekerjaanmu? " Tanya bos itu dengan tatapan mata tidak suka.

Orang itu dengan santai menjawab, " Sudah pak..."
" Berapa kamu di gaji dalam seminggu ? " Tanya bos lagi.
" Seratus ribu, Pak.."
Si Bos semakin kesal dengan sikap pegawai itu yang sangat tidak sopan dan terkesan menyepelekan pekerjaan, tanpa ba-bi-bu si Bos lalu mengeluarkan sejumlah uang dari saku jasnya dan memberikan uang itu kepada pegawai yang tidak sopan itu.

" Sini kamu! Ini saya kasih kamu gaji dua kali lipat dari gaji kamu, tapi saya minta kamu untuk segera meninggalkan tempat ini..!! " Dengan nada kesal si Bos memberikan uang dua ratus ribu kepada pegawai itu.

Spontan pegawai itu nyengir lalu berterima kasih pada si Bos serta pergi tanpa merasa berdosa.
Setelah pegawai itu pergi, si Bos lalu menghampiri recepcionist dan bertanya siapa pegawai itu dan sudah berapa lama dia bekerja disini. Si recepcionist masih dengan wajah kebingungan menjawab pertanyaan si Bos.
" Oh..., dia itu pengantar Pizza langganan karyawan sini , Pak..! "

Si Bos " ??? "

Sunday, August 10, 2008

Tak ada lagi tulisan

jiwa yang hampa seakan tiada yang ingin tertulis, tatkala hari itu telah berganti....nyawapun akan berganti...tapi aku ingin tetap menulis.....menulis.....dan menulis....

semoga tidak pernah hilang ideku untuk menuangkan ide..


amiin