Wednesday, August 20, 2008
Wednesday, August 13, 2008
Gaji Dua Kali Lipat
Ketika si bos ini turun dari lift dia mendapati seseorang sedang berdiri dengan malasnya sambil mengisap sebatang rokok didekat recepcionist. Tanpa bertanya siapa dia bos itu langsung menegur ;
" Kamu sudah menyelesaikan pekerjaanmu? " Tanya bos itu dengan tatapan mata tidak suka.
Orang itu dengan santai menjawab, " Sudah pak..."
" Berapa kamu di gaji dalam seminggu ? " Tanya bos lagi.
" Seratus ribu, Pak.."
Si Bos semakin kesal dengan sikap pegawai itu yang sangat tidak sopan dan terkesan menyepelekan pekerjaan, tanpa ba-bi-bu si Bos lalu mengeluarkan sejumlah uang dari saku jasnya dan memberikan uang itu kepada pegawai yang tidak sopan itu.
" Sini kamu! Ini saya kasih kamu gaji dua kali lipat dari gaji kamu, tapi saya minta kamu untuk segera meninggalkan tempat ini..!! " Dengan nada kesal si Bos memberikan uang dua ratus ribu kepada pegawai itu.
Spontan pegawai itu nyengir lalu berterima kasih pada si Bos serta pergi tanpa merasa berdosa.
Setelah pegawai itu pergi, si Bos lalu menghampiri recepcionist dan bertanya siapa pegawai itu dan sudah berapa lama dia bekerja disini. Si recepcionist masih dengan wajah kebingungan menjawab pertanyaan si Bos.
" Oh..., dia itu pengantar Pizza langganan karyawan sini , Pak..! "
Si Bos " ??? "
Sunday, August 10, 2008
Tak ada lagi tulisan
semoga tidak pernah hilang ideku untuk menuangkan ide..
amiin
Monday, July 21, 2008
Kisah Hikmah
KISAH Tukang Kayu
Selesai. Ini rumah terakhir yang dipesan olehnya. Tiga puluh tahun sudah, aku bekerja dalam kerya. Akulah tukang kayu terbaik disini. Segala desain rumah kuwujudnyatakan menjadi kaya indah dalam kontruksi kokoh. Tapi, aku lelah. Setiap rumah yang kubangun telah menguras energy yang luar biasa dari tubuhku. Aku seorang perfectionist yang selalu menginginkan hasil terbaik dalam kerja kerasku.
Aku telah puas dengan segala kerja kerasku selama ini. Hamper semua jenis rumah telah kuselesaikan. Bahkan, hamper semua rumah di perumahan ini hasil kerjaku. Aku ingin berhenti. Menikmati sisa hidupku sebagai manusia biasa yang bukan si tukang kayu.
Menikmati hari- hari aku bisa bermain dengan anakku dalam waktu sepuasnya. Menikamti waktu- waktu aku bisa bertemu dengan-Nya dengan lebih khusyu tak lagi ada pikiran tentang jenis kayu mana yang cocok untuk kontruksi ini, bagaimana agar desain aneh ini bisa berdiri dengan kokoh dan masalah- masalah kontruksi rumah lainnya.
Semuanya berjalan seperti yang kuharapkan kecuali setelah dia memaksaku membuat satu lagi rumah.
“ Aku mengerti. Aku telah bekerja denganmu selama tiga puluh tahun. Aku mengerti kau lelah. Tapi, cobalah. Ini yang terakhir. Setelah ini, berhentilah. Dan nikamti hidupmu dengan indah. “
“ Tak bisa. Aku tak lagi punya gairah untuk membuat sebuah rumah. Apalagi dengan desain seperti ini. Ini akan sangat melelahkan. Dan aku tak punya lagi kekuatan, bahkan untuk sekedar menyambung sau balok kayu dengan balok kayu lainnya. Tak kau lihat wajah lelah ini?”
“ Kumohon. Aku mengerti hal itu. Aku hanya ingin kau membuat karya terakhirmu untukku. Aku ingin membuat satu kenangan indah tentang bagaimana hubungan kita. Bagaimana kita bersama- sama membangun usaha ini. Aku tahu kau te;ah bekerja keras. Aku tahu kau lelah, tpi, kumohon kerjakanlah ini untukku. Bila ada satu permintaan yang aku tak ingin kau menolaknya, iinilah permintaan itu. Kumohon dengan sangat. Kumohon……”
Nafasku terasa berat. Aku lelah dan dia mengerti itu. Aku membuat satu lagi rumah itu seperti memindahkan gunung dari kakinya ke sebuah tempat jauh disana dan dia tak mengerti hal ini. Dia temanku. Teman yang paling kusayangi. Aku tak lagi bisa menolak permintaanya, saat dia memohon seperti ini.
“ Baiklah!”
Dengan berat hati aku setuju.
Aku kerjakan semuanya dengan setengah hati. Aku kerjakan dengan lelah hati. Setiap bagian kukerjakan semampuku, bahkan seperlunya. Aku tak lagi mau teliti. Dalam pikiranku, aku hanya ingin menyelesaikan rumah dengan cepat. Agar aku bebas dari kelelahan panjang ini. Agar aku sekedar bebas dari permintaannya yang tak bisa kutolak. Tak peduli nanti hasilnya seperti apa.
Aku tak lagi menjadi seorang perfectionist. Tak peduli lagi bagaimana mencari dan membuat kontruksi ideal untuk desain yang diberikannya. Tak peduli lagi bagaimana rumah ini harus tampak indah dari setiap sudut pandang. Tak peduli lagi dengan bagaimana membuat sebuah proporsi ideal antar bagian rumah. Aku tak peduli. Pikiranku hanya satu, membuat rumah ini dengan cepat!
Pada akhirnya aku bisa menyelesaikannya dengan satu kelegaan: aku telah memenuhi keinginan terakhirnya. Mungkin ia akan kecewa, rumah ini sama sekali tak sama dengan rumah- rumah yang telah kukerjakan sebelumnya : sangat jauh dari sempurna. Jelek sekali! Apa yang telah kulakukan. Bagaimana aku bisa membuat rumah seperti ini/ ah, tak apalah dia nanti kecewa. Setidaknya permintaannya terpenuhi.
“ Kau tahu, kaulah sahabat terbaikku. Kau selalu memberikan kemampuan terbaikmu untukku. Tak pernah ada pelanggan kita yang kecewa. Mereka bahkan sangat mengagumi hasil kerja kerasmu. Rumah- rumahmu adalah yang terbaik disini. Dan aku ingin kaupun menikmati betapa mengagumkannya rumah- rumah yang telah kau bangun. Ini berkaitan dengan permintaan terakhirku. Rumah itu untukmu. Untuk jasamu yang tak terbalas. “
Dia memberiku sebuah kunci. Kunci pintu rumah yang sangat kukenal. Aku menerima kunci itu dengan tangan yang bergetar. Bagaimana tidak, rumah itu untukku!!
Friday, July 18, 2008
Sebuah Pertemuan......By : UNIC
Secebis cahaya menerangi laluan
Ada kalanya langkahku tersasar
Tersungkur di lembah kegelapan
Bagaikan terdengar bisikan rindu
Mengalun kalimah menyapa keinsafan
Kehadiranmu menyentuh kalbu
Menyalakan obor pengharapan
Tika ku kealpaan
Kau bisikan bicara keinsafan
Kau beri kekuatan tika aku
Diuji dengan dugaan
Saat ku kehilangan keyakinan
Kau nyalakan harapan
Saat ku meragukan keampunan Tuhan
Kau katakan rahmat-Nya
mengatasi segala
Menitis air mataku keharuan
kepada sebuah pertemuan
Kehadiranmu mendamaikan
Hati yang dahulu keresahan
Cinta yang semakin kesamaran
Kau gilap cahaya kebahagiaan
Tulus keikhlasan menjadi ikatan
Dengan restu kasihMu oh Tuhan
Titisan airmata menyubur cinta
Dan rindupun berbunga
Mekar tidak pernah layu
Damainya hati yang dulu resah keliru
Cintaku takkan pudar diuji dugaan
Mengharum dalam harapan
Moga kan kesampaian kepada Tuhan
Lantaran diri hamba kerdil dan hina
Syukur sungguh dihati ini
Dikurniakan teman sejati
Menunjuk jalan dekati-Nya
Tika diri dalam kebuntuan
Betapa aku menghargai kejujuran yang kau beri
Mengajarku mengenal erti Cinta hakiki yang abadi
Tiada yang menjadi impian
Selain rahmat kasihMu Tuhan
Yang terbias pada ketulusan
Sekeping hati seorang insan
Bernama Teman........
fiuuuuhhhh....caaapeeeekkk.....dehhhhh nulisnya!!!
Wednesday, July 16, 2008
Nekdot
Suatu hari seorang penemu bernama Budi berhasil membuat robot pendeteksi kebohongan, intinya robot itu akan menampar siapa saja yang berbicara bohong dekat dia. Si Budi lalu membawa pulang robot itu kerumahnya dan menceritakan dengan bangga keberhasilan dia membuat robot pendeteksi kebohongan. Ketika sedang asyik bercerita, tiba- tiba anaknya pulang...dalam hati Budi ingin menguji kelayakan robot ini. Budi kemudian menegur anaknya " Anto, darimana saja kamu....jam segini baru pulang?" Tanya Budi pada Anto, " Mmmm....anu pa, dari rumah temen.." Jawab Anto. " Ngapain??" tanya Budi dengan wajah galak, " Kami habis belajar, pa " tiba- tiba "Plaak...!! " robot itu menampar pipi Anto....." Naah kan kamu bohong, ayo ngapain kamu sama teman kamu disana? ". Anto menjawab lagi sambil meringis " Nonton..pa".
" Nonton apa? " tanya Budi, " Nonton sinetron pa..." Plaaak..!! robot itu kembali menampar pipi Anton, " Kamu bohong lagi, Anton! Ayo ngaku kamu habis ngapain? " Anto semakin meringis dan berkata lirih " Iiya...iya...pa Anto nonton film orang dewasa..." sambil melirik robot itu, namun robot itu tak bergeming. " Kamu ini.....masih kecil sudah menonton film orang dewasa, tau nggak? Papa ini waktu kecil tidak pernah nonton film dewasa...! " Plaaak....!! Tiba- tiba robot itu menampar pipi Budi, dari dalam kamar istrinya datang dan berkata : " alaaahhh.....bapak sama anak sama saja....! sudahlah pa....maafkan saja Anto, dia kan anakmu juga..." Tiba- tiba...Plaaaakk...!!! Robot itu menampar pipi istri Budi.
Tuesday, July 15, 2008
Ramadhan VS Pemilu
Persiapan Pemilu 2009 M (282 Hari Lagi)
Hajatan politik besar-besaran bangsa ini masih satu tahun lagi akan dilaksanakan, 282 hari lagi kalau mengutip situsnya Komisi Pemilihan Umum, namun kita telah disuguhkan pada persiapan dan penyambutan yang luar biasa meriah bagi para pemeran utama hajatan tersebut.
Partai-partai politik sudah menggerakan mesin-mesin politknya, di sana-sini kita sudah bisa melihat bendera-bendera partai politik berkibar di mana-mana, banyak. Para tokoh-tokoh partai memasang iklan mempromosikan diri dan partainya serta saling unjuk diri, menunjukkan siapa saja para pendukungnya di televisi, koran, dan bahkan mungkin radio, mulai mendekat lagi ke rakyat.
Persiapan Ramadhan 1429 H (65 Hari Lagi)
Namun kontras dengan persiapan bulan yang dimuliakan dalam Islam, bulan yang lebih baik dari seribu bulan, bulan Ramadhan. Bulan yang di mana Rasulullah SAW pernah bersabda,
Dari Abu Hurairah radhiallahu 'anhu: Adalah Rasulullah SAW memberi kabar gembira kepada para sahabatnya dengan bersabda, "Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan yang diberkahi. Allah mewajibkan kepadamu puasa didalamnya; pada bulan ini pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan para setan diikat; juga terdapat pada bulan ini malam yang lebih baik daripada seribu bulan, barangsiapa tidak memperoleh kebaikannya maka dia tidak memperoleh apa-apa." (HR Ahmad dan An-Nasa'i)
Rentang jarak pelaksanaan pemilu 2009 dan Ramadhan 1429 H sangatlah jauh berbeda, lalu, sudah seberapa meriah pula kita mempersiapkan diri tuk menyambutnya..?
Penghargaan seseorang terhadap sesuatu mencerminkan urgensi hal tersebut.
Bukankah kita akan bersiap jauh-jauh hari sebelumnya jika tahu bahwa akan ada sebuah hal besar yang kan hadir mengisi/mempengaruhi hidup kita..? Jika akan ada presiden yang akan bertamu ke rumah kita..? Jika akan ada ujian yang kan mempengaruhi kelanjutan masa depan pendidikan atau pekerjaan kita..? Sudah sebaik apa penghargaan kita terhadap bulan Ramadhan dibandingkan dengan pemuliaan kita terhadap hal-hal lain..? Inilah bulan yang harusnya kaum muslimin agungkan, dan sudah seberapa besar pemaknaan kita terhadap bulan Ramadhan ini..?
Mari sama-sama kita tengok ulang diri kita masing-masing. Jangan malu kalau memang baru sebatas ucapan di lidah kelu sebentuk pengagungan terhadap Ramadhan, namun ternyata hati ini tetap dingin membeku dalam mempersiapkannya.
Astagfirullah...